• Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?


    ,

     

    Penetapan Auki Tekege Sebagai Tokoh Gereja oleh Uskup Timika Mgr Jhon P Saklil Pr


    Auki ialah manusia pra Modern yang belum tahu apa itu Injil atau Alkitab apalagi perkembangan dunia luar. Tetapi dengan gigih berjuang menghadirkan kabar suka cita di daerah pedalaman melalui hubungan dagang yang sudah lama dijalin dengan suku Kamoro. 

    Dalam sejarah perkembangan bangsa barat ke wilayah ekspansinya sering terjadi perang dengan bangsa pribumi. Namun pertemuan awal antara Auki dengan para misionaris terjadi dengan damai dan saling memandang satu sama lain sebagai ciptaan Tuhan.
    Oleh karena itu DR JV de Bruijn menyebut Auki adalah orang yang bijak dan berpengalaman, juga berprestasi dan berkemampuan. Auki juga sudah melihat laut, Maikaida dan mengadakan kontak dengan orang Mimika dengan tukar menukar rokok dengan garam, juga menguasai bahasa Mimika.

    (Auki is echter een bereisd man, waaraan hij zijn prestige ontleent. Hij heft de zee, maikaida, gezien. Hij ruilhandel drijft-tabak tegen zout de Mimikataal).[9]

    Auki dibabtis menjadi orang Katolik pada tanggal 19-07-1958 bersama rekan-rekannya dari Mapia oleh Vikaris Apostik dan Uskup Tituler Mosynopolis Irian, Mgr. Dr. Staverman di Modio. Satu tahun kemudian 1959 Auki meninggal dalam usia muda. Beliau dimakamkan di Gokotikapau, yaitu sebuah gua yang sudah dipilih sebelumnya.

    Pepatah mengatakan “Gajah meninggalkan gading, manusia meninggalkan nama”. Pepatah ini tidak berlaku bagi seorang Auki yang telah berjasa bagi orang pedalaman dan pegunungan bumi Cenderawasih. Karena jasanya menawarkan misionaris datang membuka mata hati pikiran orang gunung belum pernah dikenal luas. Sekarang menjadi tanggung siapa? Apakah orang Paniai yang telah muncul sebagai Auki-Auki kecil tinggal diam tanpa berterima kasih sedikitpun? Lima puluh tahun pesta emas berdirinya Gereja Modio – Mapia dan 70 Tahun masuknya Agama di daerah pedalaman Paniai adalah merupakan tonggak sejarah yang perlu dihayati dan direnungkan bersama-sama. Agar masyarakat Mapia khususnya dan orang Irian umumnya dapat membuka mata melihat kehidupan baru kedepan, untuk membangun, menata dan mengangkat sisa-sisa firdaus yang semakin hilang.

    Sebelum Auki meninggal hanya ada satu pesan yang ditinggalkan kepada anak-cucunya, kepada orang Modio dan Mapia khususnya dan orang Irian umumnya.

    AUKI bukan milik Tekege paa
    AUKI bukan milik Tatago paa
    AUKI bukan milik orang Modio
    AUKI bukan milik orang Mapia
    AUKI bukan milik orang Pedalaman
    AUKI bukan milik orang Melanesia
    Tetapi …………….
    AUKI adalah milik setiap insan manusia
    Yang mencintai dan mencari firdaus
    AUKI adalah simbol firdaus yang hilang
    Yang mencari dan menemukan Kabo-Mana
    Untuk kita

    Auki pergi menawarkan dan menerima agama Kristen di Mimika, bukan berarti mau meniadakan atau mau menghilangkan ajaran agama asli, melainkan untuk menyempurnakan, memperbaharui dengan ajaran Kristen, sebagaimana kata Yesus kepada para muridnya: “Aku datang bukan untuk meniadakan atau menghilangkan hukum Taurat atau kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk menghilangkan, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17). Tetapi Auki juga mengalami hal yang sama seperti yang pernah dialami Yesus, bahwa “Seorang nabi dihormati dimana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya” (Matius 13:57, Lukas 6:27-36, Markus 6:1-6, Lukas 4:16-30). Semoga nama besar Auki dikenang didalam setiap insan yang mencintai kedamaian.

    Sumber:http://www.swarapapua.com/index.php/health/item/413-ketika-auki-tekege-membawa-masuk-agama-kristen-di-pedalaman-papua-5-habis

     

    , ,



    Spanduk Ibadah HUT PI Ke 161
    Foto: PethuCs Pekei
    Bandung;- Perayaan Peringatan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil Masuk  Tanah Papua dilaksanakan semarak di kota Bandung bersama Ikatan Mahasiswa  Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE) kota studi Bandung di Aula Bima Marga Jln. RE.L.L. Marta Dinata. Jumat (5/16).

    Ibadah yang mengangkat Thema “Celakahlah Aku, Jika Aku Tidak Memberitakan injil” yang di kutib dari Injil  Matius 28. 6-20, I Korintus 9. 16-24. 

    Ibadah dipimpin oleh  Ev. Efraim Weya. Dalam kotbahnya menyebutkan kabar Allah  diharuskan kepada sesama manusia yang lain dalam kehidupan  kita. “kehadiran kedua misionaris tersebut datang dalam kekelaman dunia untuk menyelamatkan manusia Papua yang ketika itu terbelenggu oleh berbagai permusuhan dunia,”katanya. 

    Ia menyebut pekabaran injil ke 161 tahun lalu tabir kegelapan dunia di terangkan oleh obor  Firman Tuhan melalui kedua misionaris yang hadir. Hal itu dapat dilihat dengan ungkapan doa sulung yang di ucapkan “Dalam Nama Allah Kami menginjak Tanah ini,”ujarnya. 

    Semua Manusia, kata Ev. Efraim, diharuskan untuk mewartakan kabar Yesus Kristus yang di bawahkan oleh kedua misionaris. Sebab amanat Allah diemban atas pundak kedua misionaris yang hadir di kota Dorey, Mansinam Manokwari 5 Pebruari 1855 silam. “jika kita bandingkan dengan umur manusia, sudah dewasa umur Injil di tanah Papua. Olehnya semua manusia Papua pewartaan tidak dibatasi oleh petugas gereja sekalipun, namun merupakan tugas dan tangungjawab semua kalangan dan keharusan untuk mewartakan Firman Allah,”paparnya.  

    Ibadah syukur yang dipimpin oleh Ev. Efram  Weya, S.Th dihadiri oleh seluruh mahasiswa asal empat kabupatan di Meuwodide, Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Tidak ketinggalan para mahasiswa  Se-Papua  yang berada di kota Bandung turut hadir dalam kegiatan tersebut.  Dalam kegiatan ibadah tersebut diramaikan dengan berbagai iringan lagu rohani yang bernuansa Papua. Lagu pembukaan di buka dengan lagu “ Disana Pulauku” kemudian tampil sebagai organis tunggal dalam kegiatan tersebut, Wilda Ukago.  

    Ketua Panitia HUT PI Pekabaran Injil Tanah Papua, Fransiskus Pekey, mengatakan perayaan tersebut terlaksana atas partisipasi dari seluruh mahasiswa IPMANAPANDODE di kota studi Bandung merupakan bukti kepedulian atas peristiwa sacral yang terjadi di tanah Papua 161 tahun silam. “saya bangga atas partisipasi para mahasiswa yang sebagai wujud nyata akan kehadiran Injil yang kita maknai sebagai hari pekabaran injil,”ujar  Frans Pekei. 

    Ketua IPMANAPANDODE  kota studi Bandung,  Mateus A.Tekege  dalam sambutannya mengutarakan, kegiatan tersebut adalah upaya mahasiswa dalam menyelami  atas kehadiran Injil di Tanah Papua. Berbagai ungkapan syukur atas kehadiran misionaris Ottow dan Geissler  5 Pebruari 1855 lalu. “saya berterima kasih kepada semua anggota Pelajar dan Mahasiswa/i yang memiliki kepedulian akan peristiwa kudus ini. Hal ini membuktikan  bahwa kita manusia Papua di luar ikut memperingati akan kehadiran Injil,”tuturnya.

    Lanjut Tekege, ketika di wawncarai TVRI, Untuk menyukseskan  acara HUT PI Ke 161 dan Seminar  ini  Badan Pengurus Harian ( BPH ) IPMANAPANDODE Bandung, mengeluarkan dana khas sebesar 15 juta. Sebab masa jabatan kepemimpinan telah berakhir bertepatan pada  kegiatan ini.

    Sementara itu, ketua Ikatan Mahasiswa Setanah Papua (IMASEPA)  kota Studi  Bandung jawa barat yang di wakili oleh Staf Sekretariat Nando Kobak dalam pesannya  mengatakan, kebersamaan para mahasiswa dalam merayakan akan peringatan HUT tersebut adalah  suatu keharusan atas karya kedua Rasul yang membawah kabar gembira. “setiap mahasiswa Papua bersyukur atas  peristiwa kudus ini,”ungkapnya seraya menambahkan kegiatan yang semacam ini harus di tingkatkan di masa-masa yang mendatang. (Natho Pigai).

    , , ,

    Ibadah dan Seminar IPMANAPANDODE Bandung
    BANDUNG, - Mahasiswa Papua akan kembali merayakan HUT Injil Masuk Di Tanah Papua 05 Februari ( PI Ke 161 ). bersama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire- Paniai- Dogiyai dan Deiyai (Ipmanapandode ) Bandung, Pada jumat (05 Februari 2016 ) di "Wisma Diklat Bina Marga" Jalan LL. RE. Martadinata no. 119, Bandung, Jawa barat.

    Dalam perayaan HUT Injil Masuk Di Tanah Papua ( PI Ke 161 ) ini juga mereka akan menggelar SEMINAR Dengan Thema; Menapaki Masa Lalu Yang Kelam, Merajut Masa Depan Yang Cerah".
    Pembicara/ Narasumber oleh penulis Buku " Deiyai Dalam Proses Pembangunan Bangsa" "Herman Tillemans Awee Pitoo" dan Wodeyokaipouga Bobii Nabi Yang Terlupakan" (Bapak Frans IGN Bobii. S. AP). 


    Perayaan HUT Injil Masuk Di Tanah Papua 05 Februari ( PI Ke 161) pada tanggal 05 Februari ini bertepatan dengan berakhirnya program kerja dari Badan Pengurus Harian ( BPH ) Ipmanapandode Bandung, sehingga mereka akan memeriahkan dengan berbagai kegiatan Ibadah, Seminar dan akan hadir Stasion TVRI Nasional untuk meliput berbagai kegiatan dalam perayaan PI Ke 161 di tanah Papua maupun Seminar ini.

    Sementara itu terlihat Pelajar dan Mahasiswa Ipmanapandode Bandung tengah mempersiapkan diri untuk mengsukseskan kegiatan ibadah dan Seminar pada kali ini.

    Pada hari ini, Sabtu 31 januari kami usai rapat untuk pembagian tugas dan kerja kepada seluruh anggota Ipmanapandode Bandung. Kemudian kami juga akan edarkan surat undangan kepada berbagai kampus yang kuliah mayoritas Mahasiswa Papua yang ada di jawa barat seperti kampus IPDN, UPI, IKOPIN, UNLA dan UNJANI. Selain itu kami juga mengundang seluruh Paguyuban- Paguyuban, Kombas serta Komunitas Orang Papua. Tutur Ketua Panitia Pelaksana, Frans Pekei.

    Kami siap mengsukseskan kegiatan Ibadah serta Seminar pada kali ini, Karena ini adalah mandat dan intruksi untuk menguji dan mendewasakan dalam kinerja kepanitian untuk bekerja oleh keluarga besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai dan Deiyai ( Ipmanapandode ) Bandung. Tandasnya. (M.T )

    , , , , ,


    Foto Saat Ibadah Natal Seminar dan Tahun Baru, IPMANAPANDODE Se-jawa dan Bali  Di Surabaya
    Surabaya - Perayaan Natal, seminar dan Tahun baru “Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE) se-Jawa dan Bali. Pada  tahun 2015/2016, telah berlangsung  merayakan di Jl, Pandaan Trawas. “ Graha Duta Kasih”. Acara ini berlangsung  pada tanggal 27 Desember 2015 hingga 01 Januari 2016.

    Ketua panitia pelaksana, Kadepa, menjelaskan dalam  sambutannya  bahwa penyelenggaraan acara Ibadah Natal, seminar  dan Tahun ini bertujuan untuk membangun tali persaudaraan serta meningkatkan  semangat dan cinta kasih sesama pelajar dan mahasiswa/I  asal Nabire,Paniai,  Dogiyai dan Deiyai yang sedang menempuh  pendidikan di pulau Jawa dan Bali.

    Dalam perayaan Natal seminar dan Tahun baru IPMANAPANDODE Se-Jawa dan Bali ini, mereka mengangkat , Thema: “Kamu Akan Mengetahui Kebenaran dan Kebenaran Itu Akan Memerdekakan Kamu ” Yoh. 8 : 23 - 28 .
    Sub thema: Dengan kelahiran Yesus yang di dalamnya ada hidup dan terang ALLAH.  Mari kita mempersiapkan diri untuk membangun tanah Papua.

    Dalam Penyelenggaraan Ibadah natal, dan penyambutan tahun baru, juga mengadakan seminar. Untuk Pemateri  pertama adalah: dr. Mia Maria Giyai,  Seminar tentang “ Pentingnya Pemberantasan HIV AIDS di Meuwodide dan Umumnya seluruh Papua’’.  Maksud dan tujuan dari pada Materi ini karena Pemateri  melihat situasi yang meningkat akan virus HIV AIDS di daerah.

    Pemateri Kedua adalah: Titus Pekei, SH. M.Si. juga penggagas Noken Papua. Seminar tentang;  “Pentingnya Noken “AGIYA” Bagi Suku Mee: Masyarakat Asli Papua “MAP” Jiwai keadaban Budaya Noken Tas Papua”.  Dalam Seminar ini juga penggagas Noken Papua Titus Pekei memberi kan  gelar  Prof. Noken kepada para peserta seminar karena Noken adalah mengandung arti yang luas bagi MAP.
    Pemateri ketiga; Longginus Pekei, juga adalah guru SMA Adhi Luhur. Seminar tentang; Pentingnya Pendidikan Berkarakter  kita. Tujuannya karena kebanyakan materi tanpa praktek sehingga perluhnya praktek  seperti kajian- kajian ilmiah dan sejenisnya, Melandaskan karakter bagi anak-anak Papua khususnya Meeyoka.

    Sementara itu, pantauan media ini terlihat para pimpinan Aliansi Mahasiswa Papua “AMP “ Mengisi kekosongan jadwal untuk diskusi bebas. Dengan Topk;  “ Landasan Pemikiran Manusia Mee Demi Pembebasan Papua”. Para pimpinan diskusi bebas meminta kepada seluruh  peserta untuk berargument dan ide dari berbagai  perspektif  baik itu Ekonomi, Politik, Budaya atau kebiasaan manusia Mee untuk solusi menuju pembebasan Papua.

    Selain seminar, beberapa kegiataan yang berlangsung seperti pertandingan sepak bola antar kota studi), Bola Volly  putra/i , serta beberapa acara selingan, seperti Pentas Budaya, Pentas Band, serta seni. Tujuan utama dari penyelenggaraan kegiataan ini adalah untuk meningkatkan kebersamaan, kekompakan, kekeluargaan serta melestarikan dan mempertahankan Budaya Mee antar setiap IPMANAPANDODE  se-Jawa dan Bali.

    Pengujung  acara kegiatan Perayaan Natal Seminar dan Tahun Baru, berlangsung evaluasi semua kegiatan yang telah usai berlangsung. Ketua Panitia pelaksana; Kadepa,  Jhon Ukago sebagai mewakili senioritas dan Ketua IPMANAPANDODE Surabaya, Frans Madai, menempati dan  memanduh  acara  untuk  EVALUASI. 

    Mereka memintah masing-masing kota studi maju perwakilan untuk menyampaikan masukan, Kritikan maupun pendapat mereka tentang Natal Seminar dan Tahun itu sendiri. Setelah itu melanjutkan pemberian piala bagi kota study yang berprestasi membawa juara dari semua perlombahan kegiatan, juga  melanjutkan  dengan penentuan kota studi untuk Natal tahun 2016/2017. 

    kebiasaan menentukan kota studi  untuk Natal bersama IPMANAPANDODE Se-jawa- bali adalah per/wilayah sehingga tahun 2013/14 lalu di laksanakan di wilayah barat tepatnya  di kota study  Bandung.  Tahun 2014/15 kemarin  di laksanakan di wilayah jawa tengah  tepatnya  di kota study  Semarang. Tahun  2015/16 ini  di laksanakan di wilayah jawa timur  tepatnya  di kota study  Surabaya. 
    Kemudian, Kembali lagi kejawa barat dan jatuh tepat di kota study Jakarta untuk tahun 2016/2017 mendatang.

    Diakhiri dengan doa penutup, Ramah tama serta salam- salaman bagi seluruh peserta dari setiap kota studi.

    Mateus A Tekege

    , , , , , ,

    Natal Bersama IPMANAPANDODE Bandung di Panti Asuhan " Rumah Pengharapan Baru" Jl. Jayagiry 1. No.2 Lembang Jawa Barat. Foto ( Ade/ Kusuma, 23/12/2015 )

    Ikatan Pelajar Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE) kota study Bandung menggelar Natal bersama anak-anak panti asuhan di Rumah pengharapan Baru, yang terletak di Jln Jayagiri No. 02 Kelurahan Lembang, Kabupaten Bandung Jawa Barat. Rabu (23/Desember 2015) kemarin.

    Mateus A. Tekege, menuturkan bahwa Merayakan Ibadah Natal bersama dengan maksud supaya menciptakan kebersamaan umat manusia untuk saling peduli terhadap sesama agar dapat mengenal Allah. Namun, dalam Konteks umum di Dunia Perayaan Natal selalu diselenggarakan dalam rangka mengenang kelahiran sang Juru s’lamat ke Dunia karena menghapus dosa umat manusia sehingga melalui kasih Allah dapat menghapus Dosa Umat manusia.

    “Oleh karena itu, Kami Keluarga Besar Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai yang sedang mengenyam pendidikan di Kota Pasundan ingin berbagi suka cita dan damai sejahtera dengan anak-anak Panti Asuhan di Rumah Pengharapan Baru” Ujar, Ketua IPMANAPANDODE Bandung Mateus A. Tekege.

    Perayaan Natal kali ini menjadi lebih special dan dirasakan maknanya oleh banyak Anggota, karena selain Merayakan Perayaan Natal seperti biasanya di Lingkungan Pelajar dan Mahasiswa Papua di Bandung dan sekitarnya.

    Dalam Perayaan NATAL IPMANAPANDODE kali ini Ketua Mahasiswa Seluruh tanah Papua kota study Bandung, Jack Peyon, didampingi oleh Sekjen Leonardus O. Magai dan Wakil ketua IMASEPA Cheko Kogoya, turut menghadiri. Selain mereka,  TVRI Jawa barat terlihat  meliput dan mewawancai Pembina Organisasi, Ketua IPMANAPANDODE dan BPH IMASEPA.

    Wakil Ketu Badan Pengurus Harian Ikatan Mahasiswa Seluruh Tanah Papua (IMASEPA) Bandung, Cekho Kogoya, Mengapresiasi dan menuturkan dalam wawancari TVRI. Kegiatan Natal teman-teman IPMANAPANDODE bersama dengan anak-anak Panti Asuhan ini adalah suatu kegiatan yang menerobos  tembok. Karena baru kali ini kami BPH IMASEPA melihat kegiatan seperti ini di kota Bandung. Semoga kedepannya teman-teman Ikatan keluarga Besar IPMANAPANDODE, mempertahankan rasa kepedulian sesama umat manusia sebagai Anak- anak Allah. Harapnya.

    kali ini Kami bisa Merayakan Natal bersama dengan Anak-Anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru dengan maksud berbagi kedamaian, kasih, dan pengharapan yang Teguh akan Allah terhadap sesama dengan diwujud nyatakan menjadi orang tua Asuh dan Sanak saudara demi menyatakan Se-Iman bersama anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru. Ujar Ketua Panitia Pelakana IPMANAPANDODE Bandung, Andreas Tagi.

    Anak- anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru yang karena kondisi keluarganya yang kurang beruntung dan memadai sehingga, terpaksa sejak kecil mereka kehilangan kasih sayang dari orang tuanya, mereka hidup menderita, hidup bersahaja dan berkekurangan, dan juga kadang-kadang mereka harus memendam kerinduannya dengan orang tua dan keluarganya, sementara banyak anak-anak kita yang hidup berkelimpahan dengan penuh kasih sayang dari orang tuanya.

    “Maka sangatlah tepat bila Tuhan Yesus bersemayam dan berpihak pada anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru dengan kata lain Anak-anak panti adalah Potret Tuhan Yesus itu sendiri” Ungkap Leonardus O. Magai yang juga Pembina IPMANAPANDODE Bandung.

    Lebih lanjut ia berpesan berpijak pada Iman tersebut, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai Kota Study Bandung bertekad kuat untuk mengadakan Natal bersama dengan melakukan gerakan peduli dan berbagi kasih kepada anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru secara tulus menjadi orang tua dan sanak saudara dalam merayakan Natal bersama dengan Damai sebagai bentuk Pengabdian kepada Masyarakat dan Sesama.

    Mereka (IPMANAPANDODE Bandung), Bukan sekedar Ibadah bersama Anak-anak Panti asuhan Rumah Pengharapan Baru, Namun mereka juga memberi berbagai Kado Natal berupa Uang, barang-barang serta sebagai bantuan social dari Organisasi IPMANAPANDODE memberikan Uang sebesar Rp 2 Juta Rupiah kepada anak-anak Panti Asuhan.

    Sementara itu, Sekretaris Panti asuhan Imelda mengatakan dirinya merasa senang dan Bahagia karena telah menghibur kami atas kehadiran teman-teman IPMANAPANDODE Bandung di Panti Asuhan ini dengan tujuan mengadakan Natal bersama berbakti kepada Masyarakat sehingga kami mengucapkan banyak terima kasih dan kami sangat mengharapkan. “ kegiatan Natal selanjutnya dapat kita laksanakan bersama” pungkasnya.
    Selanjutnya, Bapak Pendeta Yulianus Situmeang, S.Th., dalam Kotbahnya berpesan tiga hal penting sebagai pesan Natal, yakni: Hidup Rukun dalam Keluarga dan Sesama. Berbagai kasih dan damai dalam kehidupan Manusia. Saling Menjaga dan Menguatkan antar Sesama.

    Tiga Pesan diatas ini dapat merujuk pada Thema Natal IPMANAPANDODE Bandung yakni:
    Hidup bersama sebagai Keluarga Allah dan Sub Thema Natal yakni: Melalui Implementasi Natal IPMANAPANDODE Kita Dapat menciptakan Kasih dan Damai kepada sesama Manusia. 


    Mateus A. Tekege

    AUKI TEKEGE,
    Pimpinan Gereja Katolik Keuskupan Timika menetapkan Auki Tekege, seorang tokoh masyarakat Suku Mee di Modio-Mapia, sebagai Tokoh Pembawa Terang Bagi Masyarakat Koteka.

    Penetapan dan pengangkatan sang tokoh yang sejak delapan puluhan tahun silam melakukan beberapa kali komunikasi dengan misionaris barat di daerah Kokonao hingga berhasil membawa rombongan Pater Tillemans MSC ke wilayah Meepago, itu diadakan dalam sebuah perayaan ekaristi kudus, Minggu (18/10/2015) lalu.

    Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr dalam kotbahnya di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Bunda Rosari Modio, mengakui ketokohan seorang Auki Tekege.

    Paroki Modio merupakan salah satu paroki yang ada dalam wilayah Dekenat Kamuu-Mapia (Kamapi), Keuskupan Timika. Secara pemerintahan, Modio adalah ibukota Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua.

    Auki Tekege, menurut Uskup Saklil, seorang awam yang cukup berjasa membuka jalan bagi masuknya Injil Allah sekaligus peradaban baru bagi masyarakat Papua di bagian Pegunungan Tengah khususnya wilayah Meeuwodide sejak tahun 1935 hingga 1952.

    “Pewartaan Injil di wilayah Meepago berawal dari sini, oleh karena perjuangan Auki Tekege. Misionaris masuk membawa Kabar Gembira di sepanjang Pegunungan Tengah karena adanya kontak awal dari Auki Tekege, dan beberapa rekan lainnya saat itu. Maka, kita patut berterima kasih kepada mereka,” ungkapnya.

    Atas jasa dan karya itu, Uskup secara resmi menetapkan dan mengangkat Auki Tekege sebagai Tokoh Gereja.

    Uskup kemudian memberkati arca Auki Tekege yang untuk sementara ditempatkan di halaman Gereja Katolik Modio, tepatnya di depan batu tempat Injil pertama kali diletakkan Pater Herman Henry Anthon Maria Tillemans, MSC, 26 Januari 1963.

    Dalam buku “Fransiskan Masuk Papua, Jilid I: Periode Pemerintahan Belanda 1937-1952” karya Jan Sloot (2012), dan dalam lembaran sejarah perkembangan Gereja di Tanah Papua, nama Auki Tekege dicatat sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam masuknya Injil di wilayah Paniai.

    Ditulis di sana, Auki melakukan beberapa kali kontak dengan misionaris di daerah Kokonao, hingga akhirnya menjadi penunjuk bagi Pater Tillemans MSC berjalan kaki menuju Wissel Merren.

    Pater Tillemans menginjakkan kakinya pertama kali di Paniai atau yang saat itu disebut Wissel Merren, lebih dahulu sebelum Pdt. Walter Post dan Pdt. Russel Dabler dari misi The Christian Misionari Alliance (CMA) yang diutus Pdt. Robert Alexander Jaffray pada akhir tahun 1937. Sebelumnya pada ekspedisi pertama, 26 Desember 1963, Tillemans berjalan kaki bersama Auki ke Modio. Di sana Pater Tillemans memimpin misa perdana.

    Pastor Paroki Modio, P. Alfonsus Biru Kira, Pr, mengatakan, upacara penetapan dan pengangkatan Auki Tekege sebagai Tokoh Pembawa Terang Bagi Masyarakat Koteka merupakan satu upacara monumental yang menandai dimulainya beberapa rangkaian kegiatan ke depan.

    “Pemberkatan arca Auki Tekege oleh Bapa Uskup Timika menandai proses awal dari seluruh proyek pembangunan Paroki Modio sebagai tempat ziarah yang ditandai dengan tiga tempat penting dalam kaitannya dengan karya luhur Auki Tekege,” jelasnya.

    Proyek pembangunan Paroki Modio sebagai tempat ziarah, jelas Pater Kira, akan dilakukan di tiga tempat penting, yaitu lokasi perjumpaan Pater Tillemans dengan para tokoh Papua dari Paniai, Kamuu, Mapiha, dan Migani atas prakarsa Auki Tekege.

    Lokasi kedua adalah di makam dan rumah Auki Tekege, serta lokasi ketiga yakni tempat Pater Tillemans menaruh Injil dan Salib.

    Diakui, peristiwa bersejarah tersebut memang sudah dinantikan oleh umat Katolik, bahkan masyarakat Papua pada umumnya di Pegunungan Tengah secara khusus di wilayah Meeuwodide hingga daerah Suku Migani di sebelah Timur.

    Uskup pada saat perayaan ekaristi kudus itu memberikan Sakramen Krisma, kemudian dilanjutkan acara pengangkatan sekaligus pemberkatan patung wajah Auki Tekege di halaman gereja. Setelahnya Uskup memimpin peletakan batu pertama untuk pembangunan Pastoran Modio.

    “Kami berharap ada dukungan dari semua pihak, seperti sudah dinyatakan pada saat acara ebamukai di depan gereja, salah satu tempat bersejarah,” kata Pater Kira.

    Senada diungkapkan Kepala Distrik Mapia Tengah, Engelbertus Primus Degei. Menurutnya, dukungan awal sudah datang dari berbagai pihak, termasuk para pemerhati Papua dan beberapa donatur yang turut berbagi kasih.

    “Semua itu hanya untuk menghargai karya luhur para pendahulu sebagai bukti nyata perpanjangan tangan karya Ilahi di dunia,” kata Engel.

    Anggota DPRD Kabupaten Dogiyai, Yusak Ernest Tebai mengatakan, peristiwa bersejarah yang dirintis Auki Tekege bersama beberapa rekannya pada masa itu sudah merupakan langkah awal Terang Kristus menyinari wilayah Meeuwodide.

    “Karena merekalah kita bisa bersekolah hingga hari ini menjadi pejabat. Jika Auki dan kawan-kawan tidak membawa masuk Injil, mungkin ceritanya lain. Saya terharu, tidak ada balasan bagi mereka. Hanya Tuhan yang memberi mereka hadiah di Surga,” tutur Tebai.

    Yusak Ernest Tebai bersama enam orang anggota DPRD Kabupaten Dogiyai, hadir di acara itu. Mereka kemudian menyerahkan bantuan dana secara sukarela pada saat gelar tikar (ebamukai). Banyak pihak juga memberi sumbangan, selain janji iman yang akan disetor selama enam bulan ke depan.

    “Terima kasih kepada semua saudara-saudari yang turut membantu mendukung maksud baik Keuskupan bersama warga di sini,” ujar Marselino Tekege, anggota DPRD Dogiyai yang juga putra asli Modio.

    Pihak Legislatif, kata dia, sesuai kewenangan akan mengawal janji Pemerintah Kabupaten Dogiyai mendukung rencana pembangunan monumen Auki Tekege. Dukungan pemerintah daerah itu sebagaimana disampaikan Ibu Bupati, Ny. Yohana Yobee Tigi dan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas), Donatus Degei yang hadir di Modio mewakili Bupati Thomas Tigi.

    Umat bersama para tokoh masyarakat di sana, tak terkecuali Ketua Dewan Paroki Modio, Marthinus Kedeikoto, menyampaikan terima kasih karena perjuangan Auki Tekege (1900-1962) telah diakui Keuskupan Timika setelah 80 tahun berlalu.


Top