Most Popular
This Week
Resensi Anak Koteka Jadi Gubernur
Judul buku: Anak Koteka Jadi Gubernur Penulis Buku: Lamadi de Lamato Tebal: 226 Nama Lukas Enembe mencuat ketika ia hendak mencalonk...
DOA JERITAN BANGSA YANG TERTINDAS Oleh : Moyai Kedee
Ya Tuhan, Kami generasi penerus Bangsa Papua telah mendengar sendiri Kisah yang diceritakan leluhur kami Bangsa Papua Tentang karya heb...
Popular Posts
Latest Stories
What is new?
Comments
What They says?
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
AGAMA, Moyaipai
![]() |
Penetapan Auki Tekege Sebagai Tokoh Gereja oleh Uskup Timika Mgr Jhon P Saklil Pr |
Auki ialah manusia pra Modern yang belum tahu apa itu Injil atau Alkitab apalagi perkembangan dunia luar. Tetapi dengan gigih berjuang menghadirkan kabar suka cita di daerah pedalaman melalui hubungan dagang yang sudah lama dijalin dengan suku Kamoro.
Dalam sejarah perkembangan bangsa barat ke wilayah ekspansinya sering terjadi perang dengan bangsa pribumi. Namun pertemuan awal antara Auki dengan para misionaris terjadi dengan damai dan saling memandang satu sama lain sebagai ciptaan Tuhan.
Oleh karena itu DR JV de Bruijn menyebut Auki adalah orang yang bijak dan berpengalaman, juga berprestasi dan berkemampuan. Auki juga sudah melihat laut, Maikaida dan mengadakan kontak dengan orang Mimika dengan tukar menukar rokok dengan garam, juga menguasai bahasa Mimika.
(Auki is echter een bereisd man, waaraan hij zijn prestige ontleent. Hij heft de zee, maikaida, gezien. Hij ruilhandel drijft-tabak tegen zout de Mimikataal).[9]
Auki dibabtis menjadi orang Katolik pada tanggal 19-07-1958 bersama rekan-rekannya dari Mapia oleh Vikaris Apostik dan Uskup Tituler Mosynopolis Irian, Mgr. Dr. Staverman di Modio. Satu tahun kemudian 1959 Auki meninggal dalam usia muda. Beliau dimakamkan di Gokotikapau, yaitu sebuah gua yang sudah dipilih sebelumnya.
Pepatah mengatakan “Gajah meninggalkan gading, manusia meninggalkan nama”. Pepatah ini tidak berlaku bagi seorang Auki yang telah berjasa bagi orang pedalaman dan pegunungan bumi Cenderawasih. Karena jasanya menawarkan misionaris datang membuka mata hati pikiran orang gunung belum pernah dikenal luas. Sekarang menjadi tanggung siapa? Apakah orang Paniai yang telah muncul sebagai Auki-Auki kecil tinggal diam tanpa berterima kasih sedikitpun? Lima puluh tahun pesta emas berdirinya Gereja Modio – Mapia dan 70 Tahun masuknya Agama di daerah pedalaman Paniai adalah merupakan tonggak sejarah yang perlu dihayati dan direnungkan bersama-sama. Agar masyarakat Mapia khususnya dan orang Irian umumnya dapat membuka mata melihat kehidupan baru kedepan, untuk membangun, menata dan mengangkat sisa-sisa firdaus yang semakin hilang.
Sebelum Auki meninggal hanya ada satu pesan yang ditinggalkan kepada anak-cucunya, kepada orang Modio dan Mapia khususnya dan orang Irian umumnya.
AUKI bukan milik Tekege paa
AUKI bukan milik Tatago paa
AUKI bukan milik orang Modio
AUKI bukan milik orang Mapia
AUKI bukan milik orang Pedalaman
AUKI bukan milik orang Melanesia
Tetapi …………….
AUKI adalah milik setiap insan manusia
Yang mencintai dan mencari firdaus
AUKI adalah simbol firdaus yang hilang
Yang mencari dan menemukan Kabo-Mana
Untuk kita
Auki pergi menawarkan dan menerima agama Kristen di Mimika, bukan berarti mau meniadakan atau mau menghilangkan ajaran agama asli, melainkan untuk menyempurnakan, memperbaharui dengan ajaran Kristen, sebagaimana kata Yesus kepada para muridnya: “Aku datang bukan untuk meniadakan atau menghilangkan hukum Taurat atau kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk menghilangkan, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17). Tetapi Auki juga mengalami hal yang sama seperti yang pernah dialami Yesus, bahwa “Seorang nabi dihormati dimana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya” (Matius 13:57, Lukas 6:27-36, Markus 6:1-6, Lukas 4:16-30). Semoga nama besar Auki dikenang didalam setiap insan yang mencintai kedamaian.
Sumber:http://www.swarapapua.com/index.php/health/item/413-ketika-auki-tekege-membawa-masuk-agama-kristen-di-pedalaman-papua-5-habis
AGAMA, BUDAYA, Papua
![]() |
| Spanduk Ibadah HUT PI Ke 161 Foto: PethuCs Pekei |
Bandung;- Perayaan Peringatan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil Masuk Tanah Papua dilaksanakan semarak di kota Bandung bersama Ikatan Mahasiswa
Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE) kota studi Bandung di Aula Bima Marga Jln. RE.L.L. Marta Dinata. Jumat (5/16).
Ibadah yang mengangkat Thema “Celakahlah Aku, Jika Aku Tidak Memberitakan injil” yang di kutib dari Injil Matius 28. 6-20, I Korintus 9. 16-24.
Ibadah yang mengangkat Thema “Celakahlah Aku, Jika Aku Tidak Memberitakan injil” yang di kutib dari Injil Matius 28. 6-20, I Korintus 9. 16-24.
Ibadah
dipimpin oleh Ev. Efraim Weya. Dalam
kotbahnya menyebutkan kabar Allah
diharuskan kepada sesama manusia yang lain dalam kehidupan kita. “kehadiran kedua misionaris tersebut datang
dalam kekelaman dunia untuk menyelamatkan manusia Papua yang ketika itu
terbelenggu oleh berbagai permusuhan dunia,”katanya.
Ia
menyebut pekabaran injil ke 161 tahun lalu tabir kegelapan dunia di terangkan
oleh obor Firman Tuhan melalui kedua
misionaris yang hadir. Hal itu dapat dilihat dengan ungkapan doa sulung yang di
ucapkan “Dalam Nama Allah Kami menginjak Tanah ini,”ujarnya.
Semua
Manusia, kata Ev. Efraim, diharuskan untuk mewartakan kabar Yesus Kristus yang
di bawahkan oleh kedua misionaris. Sebab amanat Allah diemban atas pundak kedua
misionaris yang hadir di kota Dorey, Mansinam Manokwari 5 Pebruari 1855 silam.
“jika kita bandingkan dengan umur manusia, sudah dewasa umur Injil di tanah
Papua. Olehnya semua manusia Papua pewartaan tidak dibatasi oleh petugas gereja
sekalipun, namun merupakan tugas dan tangungjawab semua kalangan dan keharusan
untuk mewartakan Firman Allah,”paparnya.
Ibadah
syukur yang dipimpin oleh Ev. Efram Weya, S.Th dihadiri oleh seluruh mahasiswa
asal empat kabupatan di Meuwodide, Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Tidak ketinggalan
para mahasiswa Se-Papua yang berada di kota Bandung turut hadir dalam
kegiatan tersebut. Dalam kegiatan ibadah
tersebut diramaikan dengan berbagai iringan lagu rohani yang bernuansa Papua.
Lagu pembukaan di buka dengan lagu “ Disana Pulauku” kemudian tampil sebagai
organis tunggal dalam kegiatan tersebut, Wilda Ukago.
Ketua
Panitia HUT PI Pekabaran Injil Tanah Papua, Fransiskus Pekey, mengatakan
perayaan tersebut terlaksana atas partisipasi dari seluruh mahasiswa
IPMANAPANDODE di kota studi Bandung merupakan bukti kepedulian atas peristiwa sacral
yang terjadi di tanah Papua 161 tahun silam. “saya bangga atas partisipasi para
mahasiswa yang sebagai wujud nyata akan kehadiran Injil yang kita maknai
sebagai hari pekabaran injil,”ujar Frans
Pekei.
Ketua
IPMANAPANDODE kota studi Bandung, Mateus A.Tekege dalam sambutannya mengutarakan, kegiatan
tersebut adalah upaya mahasiswa dalam menyelami
atas kehadiran Injil di Tanah Papua. Berbagai ungkapan syukur atas
kehadiran misionaris Ottow dan Geissler 5
Pebruari 1855 lalu. “saya berterima kasih kepada semua anggota Pelajar dan Mahasiswa/i
yang memiliki kepedulian akan peristiwa kudus ini. Hal ini membuktikan bahwa kita manusia Papua di luar ikut
memperingati akan kehadiran Injil,”tuturnya.
Lanjut Tekege, ketika di wawncarai TVRI, Untuk menyukseskan acara HUT PI Ke 161 dan Seminar ini Badan Pengurus Harian ( BPH ) IPMANAPANDODE Bandung, mengeluarkan dana khas sebesar 15 juta. Sebab masa jabatan kepemimpinan telah berakhir bertepatan pada kegiatan ini.
Lanjut Tekege, ketika di wawncarai TVRI, Untuk menyukseskan acara HUT PI Ke 161 dan Seminar ini Badan Pengurus Harian ( BPH ) IPMANAPANDODE Bandung, mengeluarkan dana khas sebesar 15 juta. Sebab masa jabatan kepemimpinan telah berakhir bertepatan pada kegiatan ini.
Sementara itu, ketua Ikatan Mahasiswa Setanah Papua (IMASEPA) kota Studi Bandung jawa barat yang di wakili oleh Staf Sekretariat Nando Kobak dalam pesannya mengatakan, kebersamaan para mahasiswa dalam merayakan akan peringatan HUT tersebut adalah suatu keharusan atas karya kedua Rasul yang membawah kabar gembira. “setiap mahasiswa Papua bersyukur atas peristiwa kudus ini,”ungkapnya seraya menambahkan kegiatan yang semacam ini harus di tingkatkan di masa-masa yang mendatang. (Natho Pigai).
AGAMA, MAHASISWA, Moyaipai, Papua
![]() |
| Ibadah dan Seminar IPMANAPANDODE Bandung |
Dalam perayaan HUT Injil Masuk Di Tanah Papua ( PI Ke 161 ) ini juga mereka akan menggelar SEMINAR Dengan Thema; Menapaki Masa Lalu Yang Kelam, Merajut Masa Depan Yang Cerah".
Pembicara/ Narasumber oleh penulis Buku " Deiyai Dalam Proses Pembangunan Bangsa" "Herman Tillemans Awee Pitoo" dan Wodeyokaipouga Bobii Nabi Yang Terlupakan" (Bapak Frans IGN Bobii. S. AP).
Perayaan HUT Injil Masuk Di Tanah Papua 05 Februari ( PI Ke 161) pada
tanggal 05 Februari ini bertepatan dengan berakhirnya program kerja dari
Badan Pengurus Harian ( BPH ) Ipmanapandode Bandung, sehingga mereka
akan memeriahkan dengan berbagai kegiatan Ibadah, Seminar dan akan hadir
Stasion TVRI Nasional untuk meliput berbagai kegiatan dalam perayaan PI
Ke 161 di tanah Papua maupun Seminar ini.
Sementara itu terlihat Pelajar dan Mahasiswa Ipmanapandode Bandung tengah mempersiapkan diri untuk mengsukseskan kegiatan ibadah dan Seminar pada kali ini.
Pada hari ini, Sabtu 31 januari kami usai rapat untuk pembagian tugas dan kerja kepada seluruh anggota Ipmanapandode Bandung. Kemudian kami juga akan edarkan surat undangan kepada berbagai kampus yang kuliah mayoritas Mahasiswa Papua yang ada di jawa barat seperti kampus IPDN, UPI, IKOPIN, UNLA dan UNJANI. Selain itu kami juga mengundang seluruh Paguyuban- Paguyuban, Kombas serta Komunitas Orang Papua. Tutur Ketua Panitia Pelaksana, Frans Pekei.
Kami siap mengsukseskan kegiatan Ibadah serta Seminar pada kali ini, Karena ini adalah mandat dan intruksi untuk menguji dan mendewasakan dalam kinerja kepanitian untuk bekerja oleh keluarga besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai dan Deiyai ( Ipmanapandode ) Bandung. Tandasnya. (M.T )
Sementara itu terlihat Pelajar dan Mahasiswa Ipmanapandode Bandung tengah mempersiapkan diri untuk mengsukseskan kegiatan ibadah dan Seminar pada kali ini.
Pada hari ini, Sabtu 31 januari kami usai rapat untuk pembagian tugas dan kerja kepada seluruh anggota Ipmanapandode Bandung. Kemudian kami juga akan edarkan surat undangan kepada berbagai kampus yang kuliah mayoritas Mahasiswa Papua yang ada di jawa barat seperti kampus IPDN, UPI, IKOPIN, UNLA dan UNJANI. Selain itu kami juga mengundang seluruh Paguyuban- Paguyuban, Kombas serta Komunitas Orang Papua. Tutur Ketua Panitia Pelaksana, Frans Pekei.
Kami siap mengsukseskan kegiatan Ibadah serta Seminar pada kali ini, Karena ini adalah mandat dan intruksi untuk menguji dan mendewasakan dalam kinerja kepanitian untuk bekerja oleh keluarga besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai dan Deiyai ( Ipmanapandode ) Bandung. Tandasnya. (M.T )
AGAMA, ALAM PAPUA, MAHASISWA, Moyaipai, PENDIDIKAN, PROFIL
![]() | |
| Foto Saat Ibadah Natal Seminar dan Tahun Baru, IPMANAPANDODE Se-jawa dan Bali Di Surabaya |
Surabaya -
Perayaan Natal, seminar dan Tahun baru “Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire,
Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE) se-Jawa dan Bali. Pada tahun 2015/2016, telah berlangsung merayakan di Jl, Pandaan Trawas. “ Graha Duta
Kasih”. Acara ini berlangsung pada
tanggal 27 Desember 2015 hingga 01 Januari 2016.
Ketua panitia
pelaksana, Kadepa, menjelaskan dalam
sambutannya bahwa penyelenggaraan
acara Ibadah Natal, seminar dan Tahun ini
bertujuan untuk membangun tali persaudaraan serta meningkatkan semangat dan cinta kasih sesama pelajar dan
mahasiswa/I asal Nabire,Paniai, Dogiyai dan Deiyai yang sedang menempuh pendidikan di pulau Jawa dan Bali.
Dalam perayaan Natal seminar dan Tahun baru IPMANAPANDODE
Se-Jawa dan Bali ini, mereka mengangkat , Thema: “Kamu Akan Mengetahui
Kebenaran dan Kebenaran Itu Akan Memerdekakan Kamu ” Yoh. 8 : 23 - 28 .
Sub thema: Dengan kelahiran Yesus yang di dalamnya ada hidup dan terang ALLAH. Mari kita mempersiapkan diri untuk membangun tanah Papua.
Sub thema: Dengan kelahiran Yesus yang di dalamnya ada hidup dan terang ALLAH. Mari kita mempersiapkan diri untuk membangun tanah Papua.
Dalam Penyelenggaraan Ibadah natal, dan penyambutan tahun
baru, juga mengadakan seminar. Untuk Pemateri pertama adalah: dr. Mia Maria Giyai, Seminar tentang “ Pentingnya Pemberantasan HIV
AIDS di Meuwodide dan Umumnya seluruh Papua’’.
Maksud dan tujuan dari pada Materi ini karena Pemateri melihat situasi yang meningkat akan virus HIV
AIDS di daerah.
Pemateri Kedua adalah: Titus Pekei, SH. M.Si. juga penggagas
Noken Papua. Seminar tentang; “Pentingnya
Noken “AGIYA” Bagi Suku Mee: Masyarakat Asli Papua “MAP” Jiwai keadaban Budaya
Noken Tas Papua”. Dalam Seminar ini juga
penggagas Noken Papua Titus Pekei memberi kan
gelar Prof. Noken kepada para
peserta seminar karena Noken adalah mengandung arti yang luas bagi MAP.
Pemateri ketiga; Longginus Pekei, juga adalah guru SMA Adhi
Luhur. Seminar tentang; Pentingnya Pendidikan Berkarakter kita. Tujuannya karena kebanyakan materi
tanpa praktek sehingga perluhnya praktek
seperti kajian- kajian ilmiah dan sejenisnya, Melandaskan karakter bagi
anak-anak Papua khususnya Meeyoka.
Sementara itu, pantauan media ini terlihat para pimpinan
Aliansi Mahasiswa Papua “AMP “ Mengisi kekosongan jadwal untuk diskusi bebas.
Dengan Topk; “ Landasan Pemikiran
Manusia Mee Demi Pembebasan Papua”. Para pimpinan diskusi bebas meminta kepada
seluruh peserta untuk berargument dan
ide dari berbagai perspektif baik itu Ekonomi, Politik, Budaya atau
kebiasaan manusia Mee untuk solusi menuju pembebasan Papua.
Selain seminar, beberapa kegiataan yang berlangsung seperti
pertandingan sepak bola antar kota studi), Bola Volly putra/i , serta beberapa acara selingan,
seperti Pentas Budaya, Pentas Band, serta seni. Tujuan utama dari
penyelenggaraan kegiataan ini adalah untuk meningkatkan kebersamaan, kekompakan,
kekeluargaan serta melestarikan dan mempertahankan Budaya Mee antar setiap IPMANAPANDODE
se-Jawa dan Bali.
Pengujung acara
kegiatan Perayaan Natal Seminar dan Tahun Baru, berlangsung evaluasi semua
kegiatan yang telah usai berlangsung. Ketua Panitia pelaksana; Kadepa, Jhon Ukago sebagai mewakili senioritas dan
Ketua IPMANAPANDODE Surabaya, Frans Madai, menempati dan memanduh
acara untuk EVALUASI.
Mereka memintah masing-masing kota studi maju perwakilan untuk
menyampaikan masukan, Kritikan maupun pendapat mereka tentang Natal Seminar dan
Tahun itu sendiri. Setelah itu melanjutkan pemberian piala bagi kota study yang
berprestasi membawa juara dari semua perlombahan kegiatan, juga melanjutkan dengan penentuan kota studi untuk Natal tahun 2016/2017.
kebiasaan menentukan kota studi untuk Natal bersama IPMANAPANDODE Se-jawa-
bali adalah per/wilayah sehingga tahun 2013/14 lalu di laksanakan di wilayah
barat tepatnya di kota study Bandung.
Tahun 2014/15 kemarin di
laksanakan di wilayah jawa tengah
tepatnya di kota study Semarang. Tahun 2015/16 ini
di laksanakan di wilayah jawa timur
tepatnya di kota study Surabaya.
Kemudian, Kembali lagi kejawa barat
dan jatuh tepat di kota study Jakarta untuk tahun 2016/2017 mendatang.
Diakhiri dengan doa penutup, Ramah tama serta salam- salaman
bagi seluruh peserta dari setiap kota studi.
Mateus A
Tekege
AGAMA, MAHASISWA, Moyaipai, Papua, pembangunan, PENDIDIKAN, PROFIL
![]() |
| Natal Bersama IPMANAPANDODE Bandung di Panti Asuhan " Rumah Pengharapan Baru" Jl. Jayagiry 1. No.2 Lembang Jawa Barat. Foto ( Ade/ Kusuma, 23/12/2015 ) |
Ikatan Pelajar Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE) kota study Bandung menggelar Natal bersama anak-anak panti asuhan di Rumah pengharapan Baru, yang terletak di Jln Jayagiri No. 02 Kelurahan Lembang, Kabupaten Bandung Jawa Barat. Rabu (23/Desember 2015) kemarin.
Mateus A. Tekege, menuturkan bahwa Merayakan Ibadah Natal bersama dengan maksud supaya menciptakan kebersamaan umat manusia untuk saling
peduli terhadap sesama agar dapat mengenal Allah. Namun, dalam Konteks umum di
Dunia Perayaan Natal selalu diselenggarakan dalam rangka mengenang kelahiran
sang Juru s’lamat ke Dunia karena menghapus dosa umat manusia sehingga melalui
kasih Allah dapat menghapus Dosa Umat
manusia.
“Oleh karena itu, Kami Keluarga Besar Ikatan Pelajar
dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai yang sedang mengenyam
pendidikan di Kota Pasundan ingin berbagi suka cita dan damai sejahtera dengan
anak-anak Panti Asuhan di Rumah
Pengharapan Baru” Ujar, Ketua IPMANAPANDODE Bandung Mateus A. Tekege.
Perayaan Natal kali ini menjadi lebih special dan
dirasakan maknanya oleh banyak Anggota, karena selain Merayakan Perayaan Natal
seperti biasanya di Lingkungan Pelajar dan Mahasiswa Papua di Bandung dan
sekitarnya.
Dalam Perayaan NATAL IPMANAPANDODE kali
ini Ketua Mahasiswa Seluruh tanah Papua kota study Bandung, Jack Peyon, didampingi
oleh Sekjen Leonardus O. Magai dan Wakil ketua IMASEPA Cheko Kogoya, turut menghadiri. Selain mereka, TVRI Jawa barat terlihat meliput dan mewawancai Pembina Organisasi,
Ketua IPMANAPANDODE dan BPH IMASEPA.
Wakil Ketu Badan Pengurus Harian Ikatan Mahasiswa Seluruh Tanah Papua (IMASEPA) Bandung, Cekho Kogoya, Mengapresiasi dan menuturkan dalam wawancari TVRI. Kegiatan Natal teman-teman IPMANAPANDODE bersama dengan anak-anak Panti Asuhan ini adalah suatu kegiatan yang menerobos tembok. Karena baru kali ini kami BPH IMASEPA melihat kegiatan seperti ini di kota Bandung. Semoga kedepannya teman-teman Ikatan keluarga Besar IPMANAPANDODE, mempertahankan rasa kepedulian sesama umat manusia sebagai Anak- anak Allah. Harapnya.
kali ini Kami bisa Merayakan Natal bersama dengan
Anak-Anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru dengan maksud berbagi kedamaian,
kasih, dan pengharapan yang Teguh akan Allah terhadap sesama dengan diwujud
nyatakan menjadi orang tua Asuh dan Sanak saudara demi menyatakan Se-Iman
bersama anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru. Ujar Ketua Panitia
Pelakana IPMANAPANDODE Bandung, Andreas
Tagi.
Anak- anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru yang karena
kondisi keluarganya yang kurang beruntung dan
memadai sehingga, terpaksa sejak kecil mereka kehilangan kasih sayang
dari orang tuanya, mereka hidup menderita, hidup bersahaja dan berkekurangan,
dan juga kadang-kadang mereka harus memendam
kerinduannya dengan orang tua dan keluarganya, sementara banyak anak-anak kita
yang hidup berkelimpahan dengan penuh kasih sayang dari orang tuanya.
“Maka sangatlah tepat bila Tuhan Yesus bersemayam dan
berpihak pada anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru dengan kata lain
Anak-anak panti adalah Potret Tuhan Yesus itu sendiri” Ungkap Leonardus O.
Magai yang juga Pembina IPMANAPANDODE Bandung.
Lebih lanjut ia berpesan berpijak pada Iman tersebut,
Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai Kota Study
Bandung bertekad kuat untuk mengadakan Natal bersama dengan melakukan gerakan
peduli dan berbagi kasih kepada anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru
secara tulus menjadi orang tua dan sanak saudara dalam merayakan Natal bersama
dengan Damai sebagai bentuk Pengabdian kepada Masyarakat dan Sesama.
Mereka (IPMANAPANDODE Bandung), Bukan
sekedar Ibadah bersama Anak-anak Panti asuhan Rumah Pengharapan Baru, Namun
mereka juga memberi berbagai Kado Natal berupa Uang, barang-barang serta
sebagai bantuan social dari Organisasi IPMANAPANDODE memberikan Uang sebesar Rp
2 Juta Rupiah kepada anak-anak Panti Asuhan.
Sementara itu, Sekretaris Panti asuhan Imelda
mengatakan dirinya merasa senang dan Bahagia karena telah menghibur kami atas
kehadiran teman-teman IPMANAPANDODE Bandung di Panti Asuhan ini dengan tujuan
mengadakan Natal bersama berbakti kepada Masyarakat sehingga kami mengucapkan
banyak terima kasih dan kami sangat mengharapkan. “ kegiatan Natal selanjutnya
dapat kita laksanakan bersama” pungkasnya.
Selanjutnya, Bapak Pendeta Yulianus Situmeang, S.Th.,
dalam Kotbahnya berpesan tiga hal penting sebagai pesan Natal, yakni: Hidup
Rukun dalam Keluarga dan Sesama. Berbagai kasih dan damai dalam kehidupan
Manusia. Saling Menjaga dan Menguatkan antar Sesama.
Tiga Pesan diatas ini dapat merujuk pada Thema Natal
IPMANAPANDODE Bandung yakni:
Hidup bersama sebagai Keluarga Allah dan Sub Thema Natal yakni: Melalui Implementasi Natal IPMANAPANDODE Kita Dapat menciptakan Kasih dan Damai kepada sesama Manusia.
Mateus A. Tekege
Hidup bersama sebagai Keluarga Allah dan Sub Thema Natal yakni: Melalui Implementasi Natal IPMANAPANDODE Kita Dapat menciptakan Kasih dan Damai kepada sesama Manusia.
Mateus A. Tekege
AGAMA
![]() |
| AUKI TEKEGE, |
Penetapan dan pengangkatan sang tokoh yang sejak delapan puluhan tahun silam melakukan beberapa kali komunikasi dengan misionaris barat di daerah Kokonao hingga berhasil membawa rombongan Pater Tillemans MSC ke wilayah Meepago, itu diadakan dalam sebuah perayaan ekaristi kudus, Minggu (18/10/2015) lalu.
Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr dalam kotbahnya di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Bunda Rosari Modio, mengakui ketokohan seorang Auki Tekege.
Paroki Modio merupakan salah satu paroki yang ada dalam wilayah Dekenat Kamuu-Mapia (Kamapi), Keuskupan Timika. Secara pemerintahan, Modio adalah ibukota Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua.
Auki Tekege, menurut Uskup Saklil, seorang awam yang cukup berjasa membuka jalan bagi masuknya Injil Allah sekaligus peradaban baru bagi masyarakat Papua di bagian Pegunungan Tengah khususnya wilayah Meeuwodide sejak tahun 1935 hingga 1952.
“Pewartaan Injil di wilayah Meepago berawal dari sini, oleh karena perjuangan Auki Tekege. Misionaris masuk membawa Kabar Gembira di sepanjang Pegunungan Tengah karena adanya kontak awal dari Auki Tekege, dan beberapa rekan lainnya saat itu. Maka, kita patut berterima kasih kepada mereka,” ungkapnya.
Atas jasa dan karya itu, Uskup secara resmi menetapkan dan mengangkat Auki Tekege sebagai Tokoh Gereja.
Uskup kemudian memberkati arca Auki Tekege yang untuk sementara ditempatkan di halaman Gereja Katolik Modio, tepatnya di depan batu tempat Injil pertama kali diletakkan Pater Herman Henry Anthon Maria Tillemans, MSC, 26 Januari 1963.
Dalam buku “Fransiskan Masuk Papua, Jilid I: Periode Pemerintahan Belanda 1937-1952” karya Jan Sloot (2012), dan dalam lembaran sejarah perkembangan Gereja di Tanah Papua, nama Auki Tekege dicatat sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam masuknya Injil di wilayah Paniai.
Ditulis di sana, Auki melakukan beberapa kali kontak dengan misionaris di daerah Kokonao, hingga akhirnya menjadi penunjuk bagi Pater Tillemans MSC berjalan kaki menuju Wissel Merren.
Pater Tillemans menginjakkan kakinya pertama kali di Paniai atau yang saat itu disebut Wissel Merren, lebih dahulu sebelum Pdt. Walter Post dan Pdt. Russel Dabler dari misi The Christian Misionari Alliance (CMA) yang diutus Pdt. Robert Alexander Jaffray pada akhir tahun 1937. Sebelumnya pada ekspedisi pertama, 26 Desember 1963, Tillemans berjalan kaki bersama Auki ke Modio. Di sana Pater Tillemans memimpin misa perdana.
Pastor Paroki Modio, P. Alfonsus Biru Kira, Pr, mengatakan, upacara penetapan dan pengangkatan Auki Tekege sebagai Tokoh Pembawa Terang Bagi Masyarakat Koteka merupakan satu upacara monumental yang menandai dimulainya beberapa rangkaian kegiatan ke depan.
“Pemberkatan arca Auki Tekege oleh Bapa Uskup Timika menandai proses awal dari seluruh proyek pembangunan Paroki Modio sebagai tempat ziarah yang ditandai dengan tiga tempat penting dalam kaitannya dengan karya luhur Auki Tekege,” jelasnya.
Proyek pembangunan Paroki Modio sebagai tempat ziarah, jelas Pater Kira, akan dilakukan di tiga tempat penting, yaitu lokasi perjumpaan Pater Tillemans dengan para tokoh Papua dari Paniai, Kamuu, Mapiha, dan Migani atas prakarsa Auki Tekege.
Lokasi kedua adalah di makam dan rumah Auki Tekege, serta lokasi ketiga yakni tempat Pater Tillemans menaruh Injil dan Salib.
Diakui, peristiwa bersejarah tersebut memang sudah dinantikan oleh umat Katolik, bahkan masyarakat Papua pada umumnya di Pegunungan Tengah secara khusus di wilayah Meeuwodide hingga daerah Suku Migani di sebelah Timur.
Uskup pada saat perayaan ekaristi kudus itu memberikan Sakramen Krisma, kemudian dilanjutkan acara pengangkatan sekaligus pemberkatan patung wajah Auki Tekege di halaman gereja. Setelahnya Uskup memimpin peletakan batu pertama untuk pembangunan Pastoran Modio.
“Kami berharap ada dukungan dari semua pihak, seperti sudah dinyatakan pada saat acara ebamukai di depan gereja, salah satu tempat bersejarah,” kata Pater Kira.
Senada diungkapkan Kepala Distrik Mapia Tengah, Engelbertus Primus Degei. Menurutnya, dukungan awal sudah datang dari berbagai pihak, termasuk para pemerhati Papua dan beberapa donatur yang turut berbagi kasih.
“Semua itu hanya untuk menghargai karya luhur para pendahulu sebagai bukti nyata perpanjangan tangan karya Ilahi di dunia,” kata Engel.
Anggota DPRD Kabupaten Dogiyai, Yusak Ernest Tebai mengatakan, peristiwa bersejarah yang dirintis Auki Tekege bersama beberapa rekannya pada masa itu sudah merupakan langkah awal Terang Kristus menyinari wilayah Meeuwodide.
“Karena merekalah kita bisa bersekolah hingga hari ini menjadi pejabat. Jika Auki dan kawan-kawan tidak membawa masuk Injil, mungkin ceritanya lain. Saya terharu, tidak ada balasan bagi mereka. Hanya Tuhan yang memberi mereka hadiah di Surga,” tutur Tebai.
Yusak Ernest Tebai bersama enam orang anggota DPRD Kabupaten Dogiyai, hadir di acara itu. Mereka kemudian menyerahkan bantuan dana secara sukarela pada saat gelar tikar (ebamukai). Banyak pihak juga memberi sumbangan, selain janji iman yang akan disetor selama enam bulan ke depan.
“Terima kasih kepada semua saudara-saudari yang turut membantu mendukung maksud baik Keuskupan bersama warga di sini,” ujar Marselino Tekege, anggota DPRD Dogiyai yang juga putra asli Modio.
Pihak Legislatif, kata dia, sesuai kewenangan akan mengawal janji Pemerintah Kabupaten Dogiyai mendukung rencana pembangunan monumen Auki Tekege. Dukungan pemerintah daerah itu sebagaimana disampaikan Ibu Bupati, Ny. Yohana Yobee Tigi dan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas), Donatus Degei yang hadir di Modio mewakili Bupati Thomas Tigi.
Umat bersama para tokoh masyarakat di sana, tak terkecuali Ketua Dewan Paroki Modio, Marthinus Kedeikoto, menyampaikan terima kasih karena perjuangan Auki Tekege (1900-1962) telah diakui Keuskupan Timika setelah 80 tahun berlalu.







