Most Popular
This Week
Resensi Anak Koteka Jadi Gubernur
Judul buku: Anak Koteka Jadi Gubernur Penulis Buku: Lamadi de Lamato Tebal: 226 Nama Lukas Enembe mencuat ketika ia hendak mencalonk...
INGIN TAHU TANAH TUMPAH DARAH KU
Foto_ku Waktu Reflesing di Lembang_ Tangkuban Perahu . Tempat tumpah darah-ku adalah kebo II (Dua ). Disana adalah sebuah kampung yang...
Popular Posts
Latest Stories
What is new?
Comments
What They says?
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
KESEHATAN, Moyaipai
![]() |
Sedang santai dengan kediamannya,
|
Bandung, - Fasilitas
kesehatan berupa Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Posko Kesehatan Desa
(Poskesdes) merupakan persoalan serius yang belum teratasi di tiga kabupaten
dimeeuwodide yakni Paniai,Deiyai dan Dogiai atau secara umumnya di seluruh
meeuwodide. Kata Zaverius Yogi, Minggu, 28 Agustus 2016
Hal itu diungkap dengan serius oleh Zaverius yogi yang
dirinya kuliah di Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) di bandung.
Yogi menceritakan, fasilitas layanan kesehatan diseluruh meeuwodide tahun ke tahun tidak menjalan efektif lagi secara kontinyu, Kami sebagai Mahasiswa mengusulkan kepada dinas Kesehatan agar menempatkan tenaga pelayanan kesehatan berupa perawat atau bidan di setiap desa karena warga pedesahan sangat membutukan pelayanan yang baik. Jelasnya.
Yogi menceritakan, fasilitas layanan kesehatan diseluruh meeuwodide tahun ke tahun tidak menjalan efektif lagi secara kontinyu, Kami sebagai Mahasiswa mengusulkan kepada dinas Kesehatan agar menempatkan tenaga pelayanan kesehatan berupa perawat atau bidan di setiap desa karena warga pedesahan sangat membutukan pelayanan yang baik. Jelasnya.
Nampaknya masalah kesehatan di meeuwodide kurangnya fasilitas
dan gedung kesehatan yang memadai. Yogi mencontohkan, Misalnya, beberapa Balai
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) karena dihampir
kabuputen di meeuwodide tak lagi berfungsi karena kurangnya tenaga pelayanan
kesehatan.
Pelayanan kesehatan merupakan keharusan yang harus mengabdi
oleh kebanyakan personil dan sentuhan kepada masyarakat pedesaan setempat. maka dengan ini kami
meminta kepada pemerintah daerah meeuwodide khususnya dibidang terkait agar segera
menambahkan personil tim medis sesuai kebutuhan daerah meeuwo masing-masin. tuturnya
Laki-laki yang sedang tunggu hari untuk wisuda, di STIKES
Jurusan Kesehatan Masyarakat ini mengatakan, masalahnya adalah tidak
menjalankan pelayanan kesehatan yang menyentuh kepada masyakarat secara efektif
bahkan di beberapa desa diwilayah meeuwodide pada dasarnya karena faktor
terbatasnya jumlah personel tenaga kesehatan.
Oleh sebab itu, Kami mendesak agar pemerintah daerah
mengirimkan personil untuk melanjutkan kuliah pada jurusan kesehatan, baik
kesehtan masyarakat (Kesmas ) maupun kebidanan serta kedokteran. Kami mendesak
karena Kami akui hingga saat ini masih kekurangan tenaga kesehatan, termasuk
dokter special di seluruh meeuwo.
Kami menyikapi untuk memberantaskan masalah kesehatan sesuai
ketubuhan daerah meuwo dide sekaligus mendesak kepada pemerintah setempat agar
mengembangkan pelayanan tenaga kesehatan di tiap desa agar masyarakat mendapatkan
pelayanan kesehatan yang baik agar terhindari dari berbagai penyakit yang
menimpah masyarakat meeuwodede, Tutupnya. Moyai Kedee.
|
|
KESEHATAN, PENDIDIKAN, PROFIL
![]() |
| Akper Nabire :Foto Ancotex/ Moyai kedee |
Puluhan mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah di kampus Akademi Keperawatan (Akper) Nabire, Papua, jurusan kebidanan, saat ini sedang mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Rumah Sakit Jaya Giri, Kecamatan Jaya Giri, Kabupaten Lembang, Jawa Barat.
“Sebelum kami diberangkatkan dari Nabire ke tanah Jawa, kami juga diwajibkan untuk membayarkan uang denda sebesar Rp 20 juta per/orang untuk melengkapi kekurangan-kekurangan sekunder, termasuk uang ongkos pulang-pergi,” jelas Frederika Badii, salah satu mahasiswi jurusan kebidanan, Jumat (24/5/2013).
Badii menceritakan, setelah ia dan teman-temannya tiba di Jakarta, mereka langsung dibagi dalam dua regu sesuai dengan masing-masing bidang jurusan.
“Kami yang jurusan kebidanan prakteknya di Jawa Barat dengan jumlah peserta praktek 42 peserta, sedangkan jurusan keperawatan mereka proktek di Jakarta pusat,” kata Badii
“Kami sangat bangga dengan adanya PKL ini, karena kami menimbah ilmu secara mendalam melalui metode pelayanan sesunggunya, agar supaya nantinya kami akan kembali mengabdi bersama masyarakat Papua,” tambahnya.
Badii melanjutkan, setelah menimbah
ilmu di Bandung, ia bersama teman-temannya akan kembali mengabdi untuk
masyarakat Papua, baik yang berada di pesisir Papua, maupun di daerah
pegunungan.
Kerja sama antara kampus Akper Nabire dengna rumah sakit di Bandung,
maupun di Jakarta berjalan selama 1 bulan, setelah itu mahasiswa akan
kembali ke daerah asal mereka di Nabire. By ( Ancotex/ Moyai kedee )
KESEHATAN, MAHASISWA, Moyaipai, PENDIDIKAN, PROFIL
![]() |
| AKPER NABIRE |
Bandung, => Puluhan mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah di
kampus Akademi Keperawatan ( Akper ) Nabire
Papua , jurusan kebidanan maupun keperawatan, Melaksanakan praktek kerja
lapangan ( PKL ) pada rumah sakit Jaya giri
kecamatan jaya giri, kabupaten Lembang-jawa barat /Bandung ; rabu 22 /05/13
Sebelum kami
diberangkatkan dari nabire ke tanah jawa kami juga mewajibkan untuk
menyumbangkan atau membayarkan uang dengan sebesar Rp 20 juta per/orang untuk
melengkapi kekurangan-kekurangan sekunder termasuk uang ongkos pulang-pergi. tutur
Frederika Badii, Ia juga salah satu mahasiswi jurusan kebidanan yang kini praktek di jaya
giri,Jawa barat.
Setelah kami sampe di Jakarta kami di golongkan menjadi dua
golongan yaitu golongan jurusan Akademi
keperawatan dan golongan jurusan
akademi kebidanan, kemudian kami jurusan
kebidanan prakteknya di jawa barat dengan jumlah peserta praktek 42 peserta, Sedangkan jurusan Akademi keperawatan mereka proktek di
Jakarta pusat, kata badii
kami sangat bangga dengan
adanya praktek kerja lapangan (pkl) karena kami menimbah ilmu dan mendalam metode pelayanan
sesunggunya, agar supaya nantinya
kami akan kembali mengabdi
bersama masyarakat Papua. Lanjut badii , pelayanan yang sementara kami dapat
melaksanakan lebih maksimal dan menjangkau masyarakat di daerah terpencil di
pedesaan jaya giri ini, bahan pedomaan
buat kami untuk kembali di Papua di
pesisir pantai maupun di daerah pedalaman diseluruh wilayah Kabupaten Nabire
pada khususnya dan diseluruh tanah Papua pada umumnya. Kata derika badii
Untuk Praktek Kerja Lapangan kami di mandatkan dan
diputuskan lama kerjanya sebulan,sehingga
Kini baru menjalan seminggu untuk kami melaksanakan Praktek tersebut;
By Anco Tekege
tandasnya.By Anco Tekege
KESEHATAN, Moyaipai
Berikut ini adalah beberapa cara untuk menghilangkan/mengendalikan hawa nafsu seks seseorang apabila tidak punya pasangan yang sah suami atau isteri :
1. Hilangkan / Singkirkan Pikiran Kotor
Jangan suka melamun memikirkan yang tidak-tidak dengan lawan jenis. Pikiran yang kotor dapat membangkitkan gairah seksual kita walaupun hanya dengan membayangkan sesuatu. Ubah pikiran yang mulai kotor dengan memikirkan sesuatu yang lain yang lebih penting dan serius.
2. Hindari Menikmati/Melihat Yang Porno dan Vulgar
Jangan sampai kita memiliki materi-materi atau pun berusaha mengakses hal-hal yang cabul, vulgar, porno, dan lain sebagainya seperti membaca cerita panas, melihat gambar telanjang, nonton film porno, dan lain-lain.
3. Batasi Hubungan Dengan Lawan Jenis
Jangan terlalu banyak berkomunikasi dengan lawan jenis kita terutama yang dari penampilan fisik dan gayanya dapat membangungkan nafsu kita untuk memiliki atau sekseder merasakan kehangatan dari dirinya. Terlalu dekat dengan lawan jenis bisa memicu pikiran kotor.
4. Perbanyak Kegiatan Yang Menguras Tenaga dan Waktu
Ikutlah ekstrakurikuler, kursus, bimbingan belajar, les, kelompok olahraga, club bikers, pekerjaan sambilan, pekerjaan tambahan dan lain-lain. Dengan sibuk dengan berbagai aktivitas dapat menyebabkan kita lelah untuk berpikir kotor.
5. Rajin Puasa dan Ibadah
Dengan taat beribadah dan rajin puasa maka otomatis kita akan sangat terlarang untuk melakukan hal yang melanggar kesusilaan. Berpikir kotor saja tidak apalagi melakukan hal-hal yang dilarang agama yang dosa besar apabila dikerjakan.
6. Tidak Pacaran
Pacaran sangat mengundang untuk melakukan kontak fisik baik yang cewek maupun yang cowok, yang mungkin awalnya hanya pegang-pegangan tangan lalu menjadi hubungan fisik yang lebih parah. Sebaiknya jangan pacar-pacaran dulu kalau tujuan kita hanya sekedar iseng-iseng saja.
7. Rajin Bersosialisasi Dengan Teman dan Keluarga
Memiliki hubungan yang sehat dan dekat dengan teman-teman dan keluarga besar kita akan membuat kita bisa meredakan birahi hanya dengan berkomunikasi dengan mereka. Apalagi dengan yang masih anak-anak atau abg pasti lebih sibuk lagi (jenis kelamin sama).
8. Selalu Berpikir Efek Dampak Buruknya
Apabila kita mengetahui keburukan-keburukan dari hubungan seks bebas tanpa ikatan pernikahan maka kita akan merasa takut untuk melakukannya. Lagipula hubungan intim kalau enaknya hanya sebentar saja, penuh resiko, dosanya besar sekali, merusak rumah tangga orang, merusak nasib kita dan orang lain buat apa.
9. Membuat Prinsip
Dengan prinsip hidup yang bersih tidak mau melakukan hal-hal yang memanjakan hawa nafsu akan memperkuat benteng pertahanan kita dalam meredakan syahwat yang ada pada diri kita. Tetap konsisten dalam menjaga prinsip hidup kita jangan mudah terpancing untuk melanggarnya.
10. Main Sendiri (Sangat Tidak Direkomendasikan)
Onani atau masturbasi merupakan jalan pintas terbaik bagi yang tidak bisa menahan nafsu pribadi dengan jalan memberi kepuasan bagi diri sendiri. Cara ini dilarang agama, membuat kecanduan, solusi jangka pendek dan bisa merusak hubungan dengan pasangan yang sah di kemudian hari.
Diposkan www.Anco Moyai Yoka.com
KESEHATAN, Moyaipai
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan penting bagi pembangunan
manusia di Papua.Meskipun kadang pemahaman masyarakat mengenai
pentingnya kesehatan masih terbatas karena terbiasa menggunakan layanan
kesehatan secara tradisional. Namun disinilah semakin pentingnya
kehadiran pemerintah terutama untuk melayani kesehatan pada
daerah-daerah terpencil.Pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan dan
melakukan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan di lapangan.
Jika memperhatikan institusi pemerintahan yang menyelenggarakan pelayanan public di tingkat distrik maka pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas tergolong aktif dibanding dengan kehadiran pemerintahan distrik sendiri.Namun tidak semuanya dapat berjalan maksimal karena masalah kekurangan tenaga medis,pendanaan dan koordinasi dengan pemerintah di tingkat distrik serta sebab lainnya.
Permasalahan kesehatan di daerah terpencil agak berbeda dengan permasalahan di bidang pendidikan.Jika dibidang pendidikan masalah utamanya adalah kekurangan tenaga guru dan ruang belajar maka permasalahan kesehatan lebih berfokus pada kekurangan tenaga medis dan pengelolaan keuangan.Sebab dibanyak tempat justru bangunan untuk pelayanan kesehatan sudah tersedia dalam berbagai tingkatan mulai dari Poskeskam(Pos Kesehatan kampung),Pustu(Puskesmas Pembantu) apalagi Puskesmas untuk tingkat distrik.
Pada data pada Dinas kesehatan Provinsi Papua tahun 2011,tercata ada 230 Puskesmas pada tahun 2006 dan tahun 2011 berjumlah 314. Juga terjadi penambahan Pustu sebanyak 700an diantara tahun 2006-2011 selain itu bangunan pondok bersalin pun meningkat pada 2007 sebanyak 454 dan ditahun 2009 meningkat menjadi 497.
Menurut kepala Dinas kesehatan Provinsi Papua, Yosep Rinta Riatmaka saat bertemu dengan stakeholder kesehatan dan LSM di Jayapura(6/03/2012) penambahan sarana kesehatan bertujuan mendekatkan layanan kesehatan ramah pada masyarakat di 385 distrik dan 3.565 kampung di 28 Kabupaten dan satu kota yang tersebar di seluruh di Papua.
Sayangnya Dinas juga mencatat 40% puskesmas tanpa dokter tetap dan hanya ada dokter PTT yang dikontrak untuk waktu sangat singkat bahkan ada 7% dari jumlah distrik yang tidak memiliki puskesmas. Ada sekitar 27% Pustu tidak tersedia tenaga medis dan 41% pondok bersalin kampung tak ada bidan.
Akibat kurangnya tenaga medis maka meskipun bangunan disiapkan secara permanen dan megah dibanding bangunan setempat lainnya namun tidak dapat memenuhi hak-hak dasar masyarakat di bidang kesehatan.Seperti yang terjadi di kampung Sekori dan kampung Aimbe di distrik Kemtuk Kab Jayapura ataupun di distrik Tor,distrik Pantai Barat dan Apawer kab Sarmi.
Petugas di beberapa Pustu tak lebih dari 2(dua) orang padahal harus melayani penduduk yang banyak pada beberapa kampung atau harus menempuh perjalanan yang cukup jauh karena jarak antara satu kampung dengan kampung yang lain saling berjauhan.Seperti di Pustu Bupul Kab Merauke atau Pustu Yuruf di Kab Keerom.
Alokasi tenaga medis yang dilakukan oleh dinas Kesehatan setempat kadang tidak memperhatikan kebutuhan riil di lapangan serta tidak berdasarkan kualifikasi yang tepat. Misalnya tidak menyediakan tenaga bidan untuk menolong persalinan sehingga dukun bersalin selalu menjadi pilihan padahal kampanye yang selalu dilakukan oleh pemerintah dukun bersalin tidak boleh melakukan pertolongan persalinan akibatnya kematian akibat persalinan cukup tinggi.
Selain itu kebijakan pemerintah untuk menempatkan Sarjana Kesehatan Masyarakat(SKM) di Puskesmas terkadang membawa masalah tersendiri sebab SKM secara teori tidak diajarkan untuk melakukan penanganan terhadap pasien namun masyarakat hanya tahu bahwa siapapun petugas medis yang menggunakan pakaian putih-putih dapat melakukan pertolongan medis.”Salah dirawat malah kita akan dianiayai oleh masyarakat setempat,”Ujar mantri Yulius Peday Puskesmas distrik Tor kab Sarmi.
Menurut suster Welly,suster senior di Kab Sarmi,pentingnya menempatkan Sarjana Kesehatan Masyarakat di Puskesmas untuk bertanggungjawab dengan menejemen sehingga dokter Puskesmas hanya berfokus mengurus pasien.
Akibat dari kurangnya tenaga medis maka dapat mempengaruhi kualifikasi rumah sakit.Misalnya Puskesmas Utama di kota Sarmi yang hingga kini masih berstatus sebagai Puskesmas dan belum menjadi Rumah sakit karena tidak memiliki jumlah dokter umum yang memadai dan tidak ada dokter spesialis.
Selain masalah tenaga medis,berbagai bantuan untuk pelayanan kesehatan seringkali menjadi masalah. Misalnya yang terjadi di kampung Towe Hitam Ibukota distrik Towe Kab Keerom.Bantuan Otsus seperti beras ketan,kacang ijo,susu,vitamin dan makanan bayi dari berbagai merek akhirnya hanya menumpuk dan kadaluwarsa di Puskesmas Towe. Alasannya karena tidak ada tenaga yang mengantar ke kampung-kampung dalam wilayah distrik Towe karena jarak yang cukup jauh,ada yang harus ditempuh dalam waktu sekitar 6-7 jam perjalanan atau bahkan 2 hari.
Sebenarnya di Puskesmas sudah tersedia dana untuk berbagai pelayanan kesehatan mulai dari dana Bantuan Operasional Kesehatan(BOK),pelayanan kesehatan keliling dari kampung ke kampung,biaya untuk mengantar obat,biaya porter dan kebersihan Puskesmas.Dinas kesehatan hanya mengurus administrasi dan dananya langsung masuk ke rekening Puskesmas.
Secara umum sumber pembiayaan kesehatan sangat beragam misalnya dari APBN (Pembantuan/BOK,DAK,Bansos, Jamkesmas dan Jampersal) dan sumber dana APBD selain Otsus sebesar 15% ada dari DAU dan PAD. Ada juga dari UNICEF, khusus kabupaten Jayapura dan Jayawijaya serta GF ATM khusus untuk TB Paru, malaria dan HIV/AIDS.Pendek kata pembiayaan pembangunan kesehatan mengalami kenaikan signifikan setiap tahunnya.Contoh dari dana Otsus saja, tahun 2002 semula berjumlah 80 miliar lebih maka tahun 2011 menjadi 600 miliar.
Keluhan lainnya adalah keterbatasan sarana transportasi yang kurang memenuhi standar dan tidak didistribusikan dengan baik terutama untuk medan yang sulit dijangkau dengan kondisi jalan yang sangat buruk. Misalnya tidak ada angkutan umum untuk menuju distrik Tor Kab Sarmi akibatnya petugas medis menumpang mobil perusahaan atau menggunakan ojek dengan biaya Rp.250 ribu sekali jalan dengan jarak tempuh sekitar 3 jam. Mobil Puskesmas yang sering rusak bahkan Puskesmas Ubrub Kab Keerom sempat menyewa mobil truk dari Pos TNI untuk membawa dari Kota Arso ke Puskesmas Ubrub dengan biaya sekali jalan Rp.14 juta.
Meski demikian ada beberapa pendekatan yang dilakukan oleh Puskesmas maupun Pustu untuk tetap memaksimalkan pelayanan kesehatan.Misalnya dokter di Puskesmas Bonggo Kab Sarmi,meminta masyarakat untuk aktif melakukan pemeriksaan kesehatan terutama bagi ibu hamil.Puskesmas menganggung biaya transportasi/ojek bagi ibu hamil. Puskesmas Bonggo melayani 16 kampung dan hanya 4 kampung yang baru memiliki Pustu.Pada dinding Pustu di Betaf tertulis jam pelayanan yang dicetak tebal memenuhi dinding. Di Genyem dan Waris,pada jendela suster dibuat papan pengumuman bertuliskan ‘Suster ada’ atau ‘Suster sedang keluar’.
Memahami permasalan tersebut maka rekruitmen dan distribusi tenaga medis mesti dilakukan dengan lebih baik. Termasuk dengan memperhatikan kendala dan kebutuhan mereka di lapangan.Selain itu monitoring dan sanksi yang tegas terhadap distribusi sarana transportasi dan penggunaan dana bila perlu untuk daerah pesisir dilengkapi dengan transportasi laut seperti untuk sekitar Kab Sarmi dan Kab Yapen.Sembari meninjau kembali kebijakan ‘pelayanan kesehatan terbang’ dengan menggunakan pesawat udara yang telah dicanangkan pada awal tahun 2012 untuk 3 distrik di kab.Jayapura.
Oleh karena penyakit-penyakit pada daerah terpencil cenderung lebih mudah dideteksi seperti penyakit kulit,malaria dan ISPA termasuk penyakit-penyakit khusus seperti kaki gajah dan kusta maka perlu melakukan rekruitmen dan spesialisasi perawat khusus seperti kebijakan yang pernah dilakukan pada jaman pemerintah Belanda.Ada mantri malaria,mantri kaki gajah dll.
Selain itu perlu meninjau kembali alokasi dana kesehatan kepada setiap unit pelayanan pemerintah baik di tingkat kampung,distrik,kabupaten hingga di provinsi. Jika saja unit-unit layanan kesehatan milik pemerintah tidak dapat menjalankan perannya secara maksimal maka pemerintah dapat bekerjasama dengan unit layanan kesehatan swasta dengan tujuan memberikan jaminan layanan kesehatan yang maksimal dan terbaik buat penduduk khususnya orang asli Papua. (Andawat/AlDP)
Jika memperhatikan institusi pemerintahan yang menyelenggarakan pelayanan public di tingkat distrik maka pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas tergolong aktif dibanding dengan kehadiran pemerintahan distrik sendiri.Namun tidak semuanya dapat berjalan maksimal karena masalah kekurangan tenaga medis,pendanaan dan koordinasi dengan pemerintah di tingkat distrik serta sebab lainnya.
Permasalahan kesehatan di daerah terpencil agak berbeda dengan permasalahan di bidang pendidikan.Jika dibidang pendidikan masalah utamanya adalah kekurangan tenaga guru dan ruang belajar maka permasalahan kesehatan lebih berfokus pada kekurangan tenaga medis dan pengelolaan keuangan.Sebab dibanyak tempat justru bangunan untuk pelayanan kesehatan sudah tersedia dalam berbagai tingkatan mulai dari Poskeskam(Pos Kesehatan kampung),Pustu(Puskesmas Pembantu) apalagi Puskesmas untuk tingkat distrik.
Pada data pada Dinas kesehatan Provinsi Papua tahun 2011,tercata ada 230 Puskesmas pada tahun 2006 dan tahun 2011 berjumlah 314. Juga terjadi penambahan Pustu sebanyak 700an diantara tahun 2006-2011 selain itu bangunan pondok bersalin pun meningkat pada 2007 sebanyak 454 dan ditahun 2009 meningkat menjadi 497.
Menurut kepala Dinas kesehatan Provinsi Papua, Yosep Rinta Riatmaka saat bertemu dengan stakeholder kesehatan dan LSM di Jayapura(6/03/2012) penambahan sarana kesehatan bertujuan mendekatkan layanan kesehatan ramah pada masyarakat di 385 distrik dan 3.565 kampung di 28 Kabupaten dan satu kota yang tersebar di seluruh di Papua.
Sayangnya Dinas juga mencatat 40% puskesmas tanpa dokter tetap dan hanya ada dokter PTT yang dikontrak untuk waktu sangat singkat bahkan ada 7% dari jumlah distrik yang tidak memiliki puskesmas. Ada sekitar 27% Pustu tidak tersedia tenaga medis dan 41% pondok bersalin kampung tak ada bidan.
Akibat kurangnya tenaga medis maka meskipun bangunan disiapkan secara permanen dan megah dibanding bangunan setempat lainnya namun tidak dapat memenuhi hak-hak dasar masyarakat di bidang kesehatan.Seperti yang terjadi di kampung Sekori dan kampung Aimbe di distrik Kemtuk Kab Jayapura ataupun di distrik Tor,distrik Pantai Barat dan Apawer kab Sarmi.
Petugas di beberapa Pustu tak lebih dari 2(dua) orang padahal harus melayani penduduk yang banyak pada beberapa kampung atau harus menempuh perjalanan yang cukup jauh karena jarak antara satu kampung dengan kampung yang lain saling berjauhan.Seperti di Pustu Bupul Kab Merauke atau Pustu Yuruf di Kab Keerom.
Alokasi tenaga medis yang dilakukan oleh dinas Kesehatan setempat kadang tidak memperhatikan kebutuhan riil di lapangan serta tidak berdasarkan kualifikasi yang tepat. Misalnya tidak menyediakan tenaga bidan untuk menolong persalinan sehingga dukun bersalin selalu menjadi pilihan padahal kampanye yang selalu dilakukan oleh pemerintah dukun bersalin tidak boleh melakukan pertolongan persalinan akibatnya kematian akibat persalinan cukup tinggi.
Selain itu kebijakan pemerintah untuk menempatkan Sarjana Kesehatan Masyarakat(SKM) di Puskesmas terkadang membawa masalah tersendiri sebab SKM secara teori tidak diajarkan untuk melakukan penanganan terhadap pasien namun masyarakat hanya tahu bahwa siapapun petugas medis yang menggunakan pakaian putih-putih dapat melakukan pertolongan medis.”Salah dirawat malah kita akan dianiayai oleh masyarakat setempat,”Ujar mantri Yulius Peday Puskesmas distrik Tor kab Sarmi.
Menurut suster Welly,suster senior di Kab Sarmi,pentingnya menempatkan Sarjana Kesehatan Masyarakat di Puskesmas untuk bertanggungjawab dengan menejemen sehingga dokter Puskesmas hanya berfokus mengurus pasien.
Akibat dari kurangnya tenaga medis maka dapat mempengaruhi kualifikasi rumah sakit.Misalnya Puskesmas Utama di kota Sarmi yang hingga kini masih berstatus sebagai Puskesmas dan belum menjadi Rumah sakit karena tidak memiliki jumlah dokter umum yang memadai dan tidak ada dokter spesialis.
Selain masalah tenaga medis,berbagai bantuan untuk pelayanan kesehatan seringkali menjadi masalah. Misalnya yang terjadi di kampung Towe Hitam Ibukota distrik Towe Kab Keerom.Bantuan Otsus seperti beras ketan,kacang ijo,susu,vitamin dan makanan bayi dari berbagai merek akhirnya hanya menumpuk dan kadaluwarsa di Puskesmas Towe. Alasannya karena tidak ada tenaga yang mengantar ke kampung-kampung dalam wilayah distrik Towe karena jarak yang cukup jauh,ada yang harus ditempuh dalam waktu sekitar 6-7 jam perjalanan atau bahkan 2 hari.
Sebenarnya di Puskesmas sudah tersedia dana untuk berbagai pelayanan kesehatan mulai dari dana Bantuan Operasional Kesehatan(BOK),pelayanan kesehatan keliling dari kampung ke kampung,biaya untuk mengantar obat,biaya porter dan kebersihan Puskesmas.Dinas kesehatan hanya mengurus administrasi dan dananya langsung masuk ke rekening Puskesmas.
Secara umum sumber pembiayaan kesehatan sangat beragam misalnya dari APBN (Pembantuan/BOK,DAK,Bansos, Jamkesmas dan Jampersal) dan sumber dana APBD selain Otsus sebesar 15% ada dari DAU dan PAD. Ada juga dari UNICEF, khusus kabupaten Jayapura dan Jayawijaya serta GF ATM khusus untuk TB Paru, malaria dan HIV/AIDS.Pendek kata pembiayaan pembangunan kesehatan mengalami kenaikan signifikan setiap tahunnya.Contoh dari dana Otsus saja, tahun 2002 semula berjumlah 80 miliar lebih maka tahun 2011 menjadi 600 miliar.
Keluhan lainnya adalah keterbatasan sarana transportasi yang kurang memenuhi standar dan tidak didistribusikan dengan baik terutama untuk medan yang sulit dijangkau dengan kondisi jalan yang sangat buruk. Misalnya tidak ada angkutan umum untuk menuju distrik Tor Kab Sarmi akibatnya petugas medis menumpang mobil perusahaan atau menggunakan ojek dengan biaya Rp.250 ribu sekali jalan dengan jarak tempuh sekitar 3 jam. Mobil Puskesmas yang sering rusak bahkan Puskesmas Ubrub Kab Keerom sempat menyewa mobil truk dari Pos TNI untuk membawa dari Kota Arso ke Puskesmas Ubrub dengan biaya sekali jalan Rp.14 juta.
Meski demikian ada beberapa pendekatan yang dilakukan oleh Puskesmas maupun Pustu untuk tetap memaksimalkan pelayanan kesehatan.Misalnya dokter di Puskesmas Bonggo Kab Sarmi,meminta masyarakat untuk aktif melakukan pemeriksaan kesehatan terutama bagi ibu hamil.Puskesmas menganggung biaya transportasi/ojek bagi ibu hamil. Puskesmas Bonggo melayani 16 kampung dan hanya 4 kampung yang baru memiliki Pustu.Pada dinding Pustu di Betaf tertulis jam pelayanan yang dicetak tebal memenuhi dinding. Di Genyem dan Waris,pada jendela suster dibuat papan pengumuman bertuliskan ‘Suster ada’ atau ‘Suster sedang keluar’.
Memahami permasalan tersebut maka rekruitmen dan distribusi tenaga medis mesti dilakukan dengan lebih baik. Termasuk dengan memperhatikan kendala dan kebutuhan mereka di lapangan.Selain itu monitoring dan sanksi yang tegas terhadap distribusi sarana transportasi dan penggunaan dana bila perlu untuk daerah pesisir dilengkapi dengan transportasi laut seperti untuk sekitar Kab Sarmi dan Kab Yapen.Sembari meninjau kembali kebijakan ‘pelayanan kesehatan terbang’ dengan menggunakan pesawat udara yang telah dicanangkan pada awal tahun 2012 untuk 3 distrik di kab.Jayapura.
Oleh karena penyakit-penyakit pada daerah terpencil cenderung lebih mudah dideteksi seperti penyakit kulit,malaria dan ISPA termasuk penyakit-penyakit khusus seperti kaki gajah dan kusta maka perlu melakukan rekruitmen dan spesialisasi perawat khusus seperti kebijakan yang pernah dilakukan pada jaman pemerintah Belanda.Ada mantri malaria,mantri kaki gajah dll.
Selain itu perlu meninjau kembali alokasi dana kesehatan kepada setiap unit pelayanan pemerintah baik di tingkat kampung,distrik,kabupaten hingga di provinsi. Jika saja unit-unit layanan kesehatan milik pemerintah tidak dapat menjalankan perannya secara maksimal maka pemerintah dapat bekerjasama dengan unit layanan kesehatan swasta dengan tujuan memberikan jaminan layanan kesehatan yang maksimal dan terbaik buat penduduk khususnya orang asli Papua. (Andawat/AlDP)
KESEHATAN, Moyaipai
Liputan6.com, Jayapura: Kasus HIV/AIDS
di Papua harus terus mendapat perhatian. Hingga Maret 2011, kasusnya
mencapai 7.300 lebih yang tersebar di 23 kabupaten/kota.
Pelaksana Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Papua, Constant Karma, Sabtu (20/8) mengatakan data yang diperoleh KPA Papua dari dinas kesehatan wilayah tersebut secara keseluruhan hampir sama rata antara jumlah HIV dan kasus AIDS.
"Hingga Maret kemarin sudah sebanyak 7.300 lebih kasus di seluruh Papua, orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Dan untuk data tiga bulan terakhir, belum keluar karena lagi menanti data dari kabupaten/kota yang masuk ke Dinas Kesehatan Provinsi Papua, kemudian diberikan kepada kami (KPA)," kata mantan wakil gubernur Papua ini.
Pemerintah terus melakukan sejumlah pertemuan kepada konselor-konselor HIV/AIDS yang berasal dari tenaga kerja sosial masyarakat (TKSM) yang ada di wilayah tersebut guna memberikan penambahan pengetahuan dan pemahaman yang lebih spesifik terkait penyakit tersebut.
"Para TKSM ini kan ada hingga ke distrik-distrik, apa lagi salah satu bidangnya menyentuh langsung dengan HIV/AIDS sehingga kami lihat perlunya melibatkan mereka dalam membantu para penderita penyakit tersebut," katanya.
Constant Karma juga mengatakan untuk melakukan sosialisasi kepada anak-anak sekolah di berbagai daerah, pihaknya juga bermitra kerja dengan UNICEF.
"Itu lewat UNICEF, ada lima kabupaten di Papua yang telah melaksanakan program/mata pelajaran HIV/AIDS di sekolah-sekolah. Yang namanya pengarusutamaan HIV/AIDS, dan ada lima mata pelajaran yang berhubungan langsung dengan HIV/AIDS. Dan ini semua sudah dibahas dan sudah berjalan," jelasnya.
Constant berharap, sosialisasi di sekolah-sekolah bisa efektif memutus mata rantai ketidaktahuan penyebaran HIV/AIDS sejak dini. (ANT/Vin)
Pelaksana Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Papua, Constant Karma, Sabtu (20/8) mengatakan data yang diperoleh KPA Papua dari dinas kesehatan wilayah tersebut secara keseluruhan hampir sama rata antara jumlah HIV dan kasus AIDS.
"Hingga Maret kemarin sudah sebanyak 7.300 lebih kasus di seluruh Papua, orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Dan untuk data tiga bulan terakhir, belum keluar karena lagi menanti data dari kabupaten/kota yang masuk ke Dinas Kesehatan Provinsi Papua, kemudian diberikan kepada kami (KPA)," kata mantan wakil gubernur Papua ini.
Pemerintah terus melakukan sejumlah pertemuan kepada konselor-konselor HIV/AIDS yang berasal dari tenaga kerja sosial masyarakat (TKSM) yang ada di wilayah tersebut guna memberikan penambahan pengetahuan dan pemahaman yang lebih spesifik terkait penyakit tersebut.
"Para TKSM ini kan ada hingga ke distrik-distrik, apa lagi salah satu bidangnya menyentuh langsung dengan HIV/AIDS sehingga kami lihat perlunya melibatkan mereka dalam membantu para penderita penyakit tersebut," katanya.
Constant Karma juga mengatakan untuk melakukan sosialisasi kepada anak-anak sekolah di berbagai daerah, pihaknya juga bermitra kerja dengan UNICEF.
"Itu lewat UNICEF, ada lima kabupaten di Papua yang telah melaksanakan program/mata pelajaran HIV/AIDS di sekolah-sekolah. Yang namanya pengarusutamaan HIV/AIDS, dan ada lima mata pelajaran yang berhubungan langsung dengan HIV/AIDS. Dan ini semua sudah dibahas dan sudah berjalan," jelasnya.
Constant berharap, sosialisasi di sekolah-sekolah bisa efektif memutus mata rantai ketidaktahuan penyebaran HIV/AIDS sejak dini. (ANT/Vin)




