• Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?


    , , ,

    Screenshot_2016-08-02-22-58-28
    PEMBEBASAN (Bandung, 2/8/2016); Siang tadi, sekitar jam 11:00, gabungan organisasi mahasiswa dan individu di Bandung membentangkan spanduk, poster-poster, palu berbaris. Salah seorang peserta mengambil megaphone kemudian berorasi. Mereka menamakan dirinya Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi. 30an peserta demonstrasi menggelar proses menyuarakan gagasan di depan kantor Pikiran Rakyat, Bandung. Demonstrasi juga dibakar oleh pertunjukan “Doger Manusia”, buah karya dari kawan-kawan Daunjati. Kumpulan seniman kerakyatan.
    Screenshot_2016-08-03-07-23-36
    Gagasan utamanya mengenai upaya mendorong majunya demokrasi kerakyatan yang dibajak oleh kepentingan investasi (kapitalisme), termasuk bicara tentang nihilnya demokrasi di Papua, dan praktik kejahatan kemanusiaan yang menyertainya.
    Dalam pemberitahuan kepada publik, Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi memastikan bahwa demonstrasi akan digelar di depan Gedung Merdeka yang jadi simbol perlawanan menentang kolonialisme. Situasi lapangan berkata lain, ternyata ada ormas yang menggelar demonstrasi dengan jargon “keutuhan NKRI”.
    Screenshot_2016-08-03-07-26-46
    Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi menduga bahwa ada unsur kesengajaan aparat (tentara) memobilisasi ormas tersebut untuk menggagalkan kelompok manapun yang hendak berbicara tentang kemerdekaan Papua, minimal, referendum sebagai mekanisme demokratis. Faktanya, di titik berangkat yang lain, barisan demonstran Aliansi Mahasiswa Papua dihadang aparat polisi, dipaksa bubar, dilarang bergabung dengan Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi yang sudah berada di Jalan Asia-Afrika.
    Dugaan tersebut menguat sebab beberapa hari sebelumnya, humas aliansi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi dihujani teror via telefon dari lebih 8 penelpon yang mengaku sebagai aparat kepolisian (Polrestabes Bandung dan Polda Jabar). Kesemuanya menganjurkan agar rencana aksi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi dibatalkan karena ada massa aksi ormas yang berposisi menolak gagasan demokratik yang disuarakan Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi. Dan diketahui bahwa ormas tersebut terdiri dari anak-anak tentara. Sebuah institusi yang tangan-tangannya paling berlumuran darah.
    Screenshot_2016-08-03-07-28-26
    Bagi aliansi, itu adalah upaya ancaman halus yang analogi sederhananya adalah: Jangan demonstrasi, karena ada massa ormas sedang aksi yang isunya menolak gagasan demokratik kalian. Itu adalah sikap aparat yang membela ormas reaksioner ketimbang suara-suara demokratisasi terutama untuk Papua. Tidak heran. Mereka institusi pelindung kapitalis.

    Tanpa banyak pertimbangan, Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi menggelar aksinya hingga jam 1 siang di tempat yang tak jauh dari massa ormas berkumpul. Dengan jarak 50 meter. Setelah aksi selesai, ormas terus melakukan provokasi dengan kawalan aparat. Mereka berdiri mengamati massa aksi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi. Seorang berbadan tegap berbaris, dan seorang lagi, sambil menegapkan badan berteriak: “NKRI harga mati, anjing!“. berteriaknya.

    Dalam situasi istirahat setelah aksi, massa Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi menanggapi dengan melanjutkan minum air mineral dan menghisap rokoknya. Hingga akhirnya, massa berjalan menuju tempat konsolidasi aliansi. Massa aksi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi berjalan melewati barisan ormas reaksioner picik dengan dikawal aparat yang juga tahu bahwa massa ormas tersebut dimobilisasi tentara. Setali-tiga-uang, itulah gambaran kerjasama mesra nan abadi TNI-Polri-Ormas-Reaksioner, para pemuja keserakahan tuan kapitalis.(bp)

    Sumber: http://pembebasan.org/




    , ,

    Pulauku Papua
    Bangsaku telah dan sedang pergi, tetapi aku masih ada di jauh seberang luasnya lautan meratap mereka dalam kesendirian karena saudara-saudara ku telah tiada. Kematian manusia bangsa west papua adalah kematian yang sengaja di buat oleh negara kolonialisme, kepergian mereka adalah akibat tindakan brutal militerisme karena mereka tidak melihat letak kesalahan secara profesional.

    Hanyalah membunuh yang ada di pundak para militerisme negara koloni Indonesia melalui Militerisme untuk membunuh memerkosa, menjajah dan merampok orang Papua di negeriku West Papua. 

    Kami bangsa west Papua merasa  terendam air mata darah karena manusia West Papua telah tiada disini, aku disini hidup seperti anak ayam tanpa induknya yang ku lakukan ketika manusia Bangsa west Papua berada di sisiku. Namun itu bukan tantangan untuk berdiam diri disini.

    Mari berjuang demi selamatkan bangsa kita dari kita untuk kedepan. menikmati hidup dan karunia kehidupan yang sebenarnya akan kita menikmati setelah kita memisahkan diri dari kolonialisme dan kapitalisme, di tanah air kita di West Papua.

    Layaknya tangisan negeri kita di berkahi di liputi cahaya sang surya. bangsa kita mati karena di bunuh dengan pedang, saat kita masih di seberang lautan yang luas mengembara di tengah-tengah bangsa yang bergembira di pusat tanah koloni

    Mereka tersenyum pada hari-hari kesenangan, sementara hari-hari yang berjalan di negeri ku meninggalkan kesan-kesan yang menyedihkan. Matinya bangsa ku,  saat disini aku masih hidup makmur, damai, inilah realitas yang sedang berkembang saat ini.

    Tuduhan tanpa pernyataan yang jelas, kejahatan yang di rencanakan oleh kepala-kepala ular yang kasat matanya, tragedi tak bermusik tak bermelodi. Sangat menyedihkan hampir setiap hari aku hanya selalu mendengarkan kepergian manusia Papua akibat pembunuhan militerisme.

    Saat aku masih dalam kesenangan di pusat kota koloni yang tak ingin aku hidup lagi, hanyalah ingin kami memisahkan diri dari kolonialisme karena kelakukan dan tindakan yang kemudian akan memusnahkan Bangsa West Papua nantinya.

    Bangsa West Papua Harus Melepaskan Diri Dari Kolonialisme Indonesia.

    By. Simion Kotouki

    , ,



    Spanduk Ibadah HUT PI Ke 161
    Foto: PethuCs Pekei
    Bandung;- Perayaan Peringatan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil Masuk  Tanah Papua dilaksanakan semarak di kota Bandung bersama Ikatan Mahasiswa  Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE) kota studi Bandung di Aula Bima Marga Jln. RE.L.L. Marta Dinata. Jumat (5/16).

    Ibadah yang mengangkat Thema “Celakahlah Aku, Jika Aku Tidak Memberitakan injil” yang di kutib dari Injil  Matius 28. 6-20, I Korintus 9. 16-24. 

    Ibadah dipimpin oleh  Ev. Efraim Weya. Dalam kotbahnya menyebutkan kabar Allah  diharuskan kepada sesama manusia yang lain dalam kehidupan  kita. “kehadiran kedua misionaris tersebut datang dalam kekelaman dunia untuk menyelamatkan manusia Papua yang ketika itu terbelenggu oleh berbagai permusuhan dunia,”katanya. 

    Ia menyebut pekabaran injil ke 161 tahun lalu tabir kegelapan dunia di terangkan oleh obor  Firman Tuhan melalui kedua misionaris yang hadir. Hal itu dapat dilihat dengan ungkapan doa sulung yang di ucapkan “Dalam Nama Allah Kami menginjak Tanah ini,”ujarnya. 

    Semua Manusia, kata Ev. Efraim, diharuskan untuk mewartakan kabar Yesus Kristus yang di bawahkan oleh kedua misionaris. Sebab amanat Allah diemban atas pundak kedua misionaris yang hadir di kota Dorey, Mansinam Manokwari 5 Pebruari 1855 silam. “jika kita bandingkan dengan umur manusia, sudah dewasa umur Injil di tanah Papua. Olehnya semua manusia Papua pewartaan tidak dibatasi oleh petugas gereja sekalipun, namun merupakan tugas dan tangungjawab semua kalangan dan keharusan untuk mewartakan Firman Allah,”paparnya.  

    Ibadah syukur yang dipimpin oleh Ev. Efram  Weya, S.Th dihadiri oleh seluruh mahasiswa asal empat kabupatan di Meuwodide, Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Tidak ketinggalan para mahasiswa  Se-Papua  yang berada di kota Bandung turut hadir dalam kegiatan tersebut.  Dalam kegiatan ibadah tersebut diramaikan dengan berbagai iringan lagu rohani yang bernuansa Papua. Lagu pembukaan di buka dengan lagu “ Disana Pulauku” kemudian tampil sebagai organis tunggal dalam kegiatan tersebut, Wilda Ukago.  

    Ketua Panitia HUT PI Pekabaran Injil Tanah Papua, Fransiskus Pekey, mengatakan perayaan tersebut terlaksana atas partisipasi dari seluruh mahasiswa IPMANAPANDODE di kota studi Bandung merupakan bukti kepedulian atas peristiwa sacral yang terjadi di tanah Papua 161 tahun silam. “saya bangga atas partisipasi para mahasiswa yang sebagai wujud nyata akan kehadiran Injil yang kita maknai sebagai hari pekabaran injil,”ujar  Frans Pekei. 

    Ketua IPMANAPANDODE  kota studi Bandung,  Mateus A.Tekege  dalam sambutannya mengutarakan, kegiatan tersebut adalah upaya mahasiswa dalam menyelami  atas kehadiran Injil di Tanah Papua. Berbagai ungkapan syukur atas kehadiran misionaris Ottow dan Geissler  5 Pebruari 1855 lalu. “saya berterima kasih kepada semua anggota Pelajar dan Mahasiswa/i yang memiliki kepedulian akan peristiwa kudus ini. Hal ini membuktikan  bahwa kita manusia Papua di luar ikut memperingati akan kehadiran Injil,”tuturnya.

    Lanjut Tekege, ketika di wawncarai TVRI, Untuk menyukseskan  acara HUT PI Ke 161 dan Seminar  ini  Badan Pengurus Harian ( BPH ) IPMANAPANDODE Bandung, mengeluarkan dana khas sebesar 15 juta. Sebab masa jabatan kepemimpinan telah berakhir bertepatan pada  kegiatan ini.

    Sementara itu, ketua Ikatan Mahasiswa Setanah Papua (IMASEPA)  kota Studi  Bandung jawa barat yang di wakili oleh Staf Sekretariat Nando Kobak dalam pesannya  mengatakan, kebersamaan para mahasiswa dalam merayakan akan peringatan HUT tersebut adalah  suatu keharusan atas karya kedua Rasul yang membawah kabar gembira. “setiap mahasiswa Papua bersyukur atas  peristiwa kudus ini,”ungkapnya seraya menambahkan kegiatan yang semacam ini harus di tingkatkan di masa-masa yang mendatang. (Natho Pigai).

    , , ,

    Ibadah dan Seminar IPMANAPANDODE Bandung
    BANDUNG, - Mahasiswa Papua akan kembali merayakan HUT Injil Masuk Di Tanah Papua 05 Februari ( PI Ke 161 ). bersama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire- Paniai- Dogiyai dan Deiyai (Ipmanapandode ) Bandung, Pada jumat (05 Februari 2016 ) di "Wisma Diklat Bina Marga" Jalan LL. RE. Martadinata no. 119, Bandung, Jawa barat.

    Dalam perayaan HUT Injil Masuk Di Tanah Papua ( PI Ke 161 ) ini juga mereka akan menggelar SEMINAR Dengan Thema; Menapaki Masa Lalu Yang Kelam, Merajut Masa Depan Yang Cerah".
    Pembicara/ Narasumber oleh penulis Buku " Deiyai Dalam Proses Pembangunan Bangsa" "Herman Tillemans Awee Pitoo" dan Wodeyokaipouga Bobii Nabi Yang Terlupakan" (Bapak Frans IGN Bobii. S. AP). 


    Perayaan HUT Injil Masuk Di Tanah Papua 05 Februari ( PI Ke 161) pada tanggal 05 Februari ini bertepatan dengan berakhirnya program kerja dari Badan Pengurus Harian ( BPH ) Ipmanapandode Bandung, sehingga mereka akan memeriahkan dengan berbagai kegiatan Ibadah, Seminar dan akan hadir Stasion TVRI Nasional untuk meliput berbagai kegiatan dalam perayaan PI Ke 161 di tanah Papua maupun Seminar ini.

    Sementara itu terlihat Pelajar dan Mahasiswa Ipmanapandode Bandung tengah mempersiapkan diri untuk mengsukseskan kegiatan ibadah dan Seminar pada kali ini.

    Pada hari ini, Sabtu 31 januari kami usai rapat untuk pembagian tugas dan kerja kepada seluruh anggota Ipmanapandode Bandung. Kemudian kami juga akan edarkan surat undangan kepada berbagai kampus yang kuliah mayoritas Mahasiswa Papua yang ada di jawa barat seperti kampus IPDN, UPI, IKOPIN, UNLA dan UNJANI. Selain itu kami juga mengundang seluruh Paguyuban- Paguyuban, Kombas serta Komunitas Orang Papua. Tutur Ketua Panitia Pelaksana, Frans Pekei.

    Kami siap mengsukseskan kegiatan Ibadah serta Seminar pada kali ini, Karena ini adalah mandat dan intruksi untuk menguji dan mendewasakan dalam kinerja kepanitian untuk bekerja oleh keluarga besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai dan Deiyai ( Ipmanapandode ) Bandung. Tandasnya. (M.T )

    , ,


    Bapak Pdt, Dr. Noakh Nawipa
    Indonesia harus jujur untuk masalah Papua. Politik ekonomi dan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan Joko Widodo tersebut  tidak akan menyelesaikan masalah Politik  sebagai jati diri orang Papua untuk melepaskan diri dari penjajahan, kolonialisme dan kapitalisme indonesia dan sekutuhnya di Tanah Papua.

    Termasuk perusahaan - perusahaan multi Internasional di papua. Orang papua harus percaya diri sebagai suatu bangsa yang tidak boleh dijajah oleh siapapun. pembangunan infrastructure tidak akan menyelesaikan masalah papua. Pemerintahan Joko Widodo harus mengetahui persoalan mendasar di Papua.

    Sepakat Bahwa untuk memulai suatu pembangunan di Papua Jokowi semestinya dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan manusia yang seakan menjadi subjek penikmat pembangaunan itu yakni OAP dan segala realitas yang menjadi kendalanya bukan malah menujukan sikap anti HAM.


    Apakah dengan perasaan situasi yang demikan akan menjadi berguna segala pembangunan itu?

    Pendekatan apapun yang di lakukan oleh Pemerintahan Jokowi termasuk TNI/POLRI yang bertugas di Papua tujuannya untuk menyelesaikan berbagai persoalan Papua. Namun tidak akan menyelesaikan karena persoalan mendasar di Papua adalah POLITIK.Oleh sebabnya pemerintahan Jokowi mengabaikan persoalan mendasar yang harusnya di ungkit dan menyelesaikan secara universal. 

    Beliau mengajak kepada  Orang papua harus bersatu, jangan mau di cerai beraikan oleh penjajah Indonesia. Seluruh  orang  asli Papua harus memintah pertolongan dan kebebasan dari segala intimidasi, keterikatan kepada yang punya segalanya adalah Tuhan. Karena satu-satunya pengharapan kita orang Papua kepada-Nya.

    Dengan adanya Bangsa Papua menyebar luas untuk mempertahankan dan perjuangan atas Jati diri “IDEOLOGI” Sebagai bangsa Papua  maka Terjadilah pelanggaran HAM di bumi Papua. Lebih baik lepaskan Papua untuk menentukan Nasib mereka sendiri  ( PAPUA MERDEKA ) dari pada Jokowi melakukan  berbagai pendekatan kepada Bangsa Papua dan tak menemukan titik perdamaian dan menyelesaikan persoalan yang sebenarnya adalah POLITIK.  FREE WEST PAPUA adalah solusi dari semua persoalan di Papua.

                                                           Moyai Kedee

    , , , , , ,

    Natal Bersama IPMANAPANDODE Bandung di Panti Asuhan " Rumah Pengharapan Baru" Jl. Jayagiry 1. No.2 Lembang Jawa Barat. Foto ( Ade/ Kusuma, 23/12/2015 )

    Ikatan Pelajar Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE) kota study Bandung menggelar Natal bersama anak-anak panti asuhan di Rumah pengharapan Baru, yang terletak di Jln Jayagiri No. 02 Kelurahan Lembang, Kabupaten Bandung Jawa Barat. Rabu (23/Desember 2015) kemarin.

    Mateus A. Tekege, menuturkan bahwa Merayakan Ibadah Natal bersama dengan maksud supaya menciptakan kebersamaan umat manusia untuk saling peduli terhadap sesama agar dapat mengenal Allah. Namun, dalam Konteks umum di Dunia Perayaan Natal selalu diselenggarakan dalam rangka mengenang kelahiran sang Juru s’lamat ke Dunia karena menghapus dosa umat manusia sehingga melalui kasih Allah dapat menghapus Dosa Umat manusia.

    “Oleh karena itu, Kami Keluarga Besar Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai yang sedang mengenyam pendidikan di Kota Pasundan ingin berbagi suka cita dan damai sejahtera dengan anak-anak Panti Asuhan di Rumah Pengharapan Baru” Ujar, Ketua IPMANAPANDODE Bandung Mateus A. Tekege.

    Perayaan Natal kali ini menjadi lebih special dan dirasakan maknanya oleh banyak Anggota, karena selain Merayakan Perayaan Natal seperti biasanya di Lingkungan Pelajar dan Mahasiswa Papua di Bandung dan sekitarnya.

    Dalam Perayaan NATAL IPMANAPANDODE kali ini Ketua Mahasiswa Seluruh tanah Papua kota study Bandung, Jack Peyon, didampingi oleh Sekjen Leonardus O. Magai dan Wakil ketua IMASEPA Cheko Kogoya, turut menghadiri. Selain mereka,  TVRI Jawa barat terlihat  meliput dan mewawancai Pembina Organisasi, Ketua IPMANAPANDODE dan BPH IMASEPA.

    Wakil Ketu Badan Pengurus Harian Ikatan Mahasiswa Seluruh Tanah Papua (IMASEPA) Bandung, Cekho Kogoya, Mengapresiasi dan menuturkan dalam wawancari TVRI. Kegiatan Natal teman-teman IPMANAPANDODE bersama dengan anak-anak Panti Asuhan ini adalah suatu kegiatan yang menerobos  tembok. Karena baru kali ini kami BPH IMASEPA melihat kegiatan seperti ini di kota Bandung. Semoga kedepannya teman-teman Ikatan keluarga Besar IPMANAPANDODE, mempertahankan rasa kepedulian sesama umat manusia sebagai Anak- anak Allah. Harapnya.

    kali ini Kami bisa Merayakan Natal bersama dengan Anak-Anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru dengan maksud berbagi kedamaian, kasih, dan pengharapan yang Teguh akan Allah terhadap sesama dengan diwujud nyatakan menjadi orang tua Asuh dan Sanak saudara demi menyatakan Se-Iman bersama anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru. Ujar Ketua Panitia Pelakana IPMANAPANDODE Bandung, Andreas Tagi.

    Anak- anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru yang karena kondisi keluarganya yang kurang beruntung dan memadai sehingga, terpaksa sejak kecil mereka kehilangan kasih sayang dari orang tuanya, mereka hidup menderita, hidup bersahaja dan berkekurangan, dan juga kadang-kadang mereka harus memendam kerinduannya dengan orang tua dan keluarganya, sementara banyak anak-anak kita yang hidup berkelimpahan dengan penuh kasih sayang dari orang tuanya.

    “Maka sangatlah tepat bila Tuhan Yesus bersemayam dan berpihak pada anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru dengan kata lain Anak-anak panti adalah Potret Tuhan Yesus itu sendiri” Ungkap Leonardus O. Magai yang juga Pembina IPMANAPANDODE Bandung.

    Lebih lanjut ia berpesan berpijak pada Iman tersebut, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai Kota Study Bandung bertekad kuat untuk mengadakan Natal bersama dengan melakukan gerakan peduli dan berbagi kasih kepada anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru secara tulus menjadi orang tua dan sanak saudara dalam merayakan Natal bersama dengan Damai sebagai bentuk Pengabdian kepada Masyarakat dan Sesama.

    Mereka (IPMANAPANDODE Bandung), Bukan sekedar Ibadah bersama Anak-anak Panti asuhan Rumah Pengharapan Baru, Namun mereka juga memberi berbagai Kado Natal berupa Uang, barang-barang serta sebagai bantuan social dari Organisasi IPMANAPANDODE memberikan Uang sebesar Rp 2 Juta Rupiah kepada anak-anak Panti Asuhan.

    Sementara itu, Sekretaris Panti asuhan Imelda mengatakan dirinya merasa senang dan Bahagia karena telah menghibur kami atas kehadiran teman-teman IPMANAPANDODE Bandung di Panti Asuhan ini dengan tujuan mengadakan Natal bersama berbakti kepada Masyarakat sehingga kami mengucapkan banyak terima kasih dan kami sangat mengharapkan. “ kegiatan Natal selanjutnya dapat kita laksanakan bersama” pungkasnya.
    Selanjutnya, Bapak Pendeta Yulianus Situmeang, S.Th., dalam Kotbahnya berpesan tiga hal penting sebagai pesan Natal, yakni: Hidup Rukun dalam Keluarga dan Sesama. Berbagai kasih dan damai dalam kehidupan Manusia. Saling Menjaga dan Menguatkan antar Sesama.

    Tiga Pesan diatas ini dapat merujuk pada Thema Natal IPMANAPANDODE Bandung yakni:
    Hidup bersama sebagai Keluarga Allah dan Sub Thema Natal yakni: Melalui Implementasi Natal IPMANAPANDODE Kita Dapat menciptakan Kasih dan Damai kepada sesama Manusia. 


    Mateus A. Tekege


Top