• Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?


    , ,

    Pantai Nabire/ Ilustrasi
    Nabire, MK-  Salah seorang ( yang tak mau mengaku Namanya ) Yang  kerja di Badan Kepegawaian Daerah BKD  Kabupaten Nabire mempertanyakan status dan penduduk pejabat dari ketiga kabupaten Meeuwo adalah Paniai, Dogiyai dan Deiyai bahwa dimanakah asal kabupaten yang sedang mengabdi  dan menjabat  sebagai  Pejabat di masing-masing Kabupeten Meewo.


    Kami pejabat nabire selalu mempertanyakan, Apa tugas dan fungsi kerja sebagai pemerintah dalam hal melayani dan mensejahterakan masyarakat ? Sebab pejabat meeuwo selalu berkeliaran di Nabire   hamper setiap hari. Mereka juga  memarkir mobil di tempat – tempat umum  di nabire seperti pantai nabire, ditempat – tempat  rekreasi  maupun di pantai- pantai. Kata salah seorang yang  tak mau mengaku Namanya yang kerja di BKD Nabire ini.

    Kenapa mereka alias para pejabat Meeuwo  lebih memilih berkeliaran di Kabupaten Nabire, sementara kabupaten yang sedang bertugas saja masih belum beres  dalam hal ini membangun dan melayani  masyarakat  setempat. Benar  kalau di kabarkan seluruh perkantoran  di masing-masing  ketiga kabupaten Meeuwo adalah Paniai, Dogiyai, Deiyai  sunyi setiap hari.

    Ia menjelaskan, Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah  Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat.

    Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat pelayanan public yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma  otonomi daerah menurut semangat adalah  otonomi masyarakat  dalam arti Pemerintah  daerah sebagai perwujudan dari otonomi masyarakat dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan public.


    Semoga para pejabat dalam dunia pelayanan publik untuk  menguasai kebutuhan masyarakat dan memenuhi kebutuhan masyarakat setempat  di Meeuwo. Bukan hilang dan kemudian berkeliaran di kota lain. Harapnya.  Admin.

    , , , , , ,

    Natal Bersama IPMANAPANDODE Bandung di Panti Asuhan " Rumah Pengharapan Baru" Jl. Jayagiry 1. No.2 Lembang Jawa Barat. Foto ( Ade/ Kusuma, 23/12/2015 )

    Ikatan Pelajar Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE) kota study Bandung menggelar Natal bersama anak-anak panti asuhan di Rumah pengharapan Baru, yang terletak di Jln Jayagiri No. 02 Kelurahan Lembang, Kabupaten Bandung Jawa Barat. Rabu (23/Desember 2015) kemarin.

    Mateus A. Tekege, menuturkan bahwa Merayakan Ibadah Natal bersama dengan maksud supaya menciptakan kebersamaan umat manusia untuk saling peduli terhadap sesama agar dapat mengenal Allah. Namun, dalam Konteks umum di Dunia Perayaan Natal selalu diselenggarakan dalam rangka mengenang kelahiran sang Juru s’lamat ke Dunia karena menghapus dosa umat manusia sehingga melalui kasih Allah dapat menghapus Dosa Umat manusia.

    “Oleh karena itu, Kami Keluarga Besar Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai yang sedang mengenyam pendidikan di Kota Pasundan ingin berbagi suka cita dan damai sejahtera dengan anak-anak Panti Asuhan di Rumah Pengharapan Baru” Ujar, Ketua IPMANAPANDODE Bandung Mateus A. Tekege.

    Perayaan Natal kali ini menjadi lebih special dan dirasakan maknanya oleh banyak Anggota, karena selain Merayakan Perayaan Natal seperti biasanya di Lingkungan Pelajar dan Mahasiswa Papua di Bandung dan sekitarnya.

    Dalam Perayaan NATAL IPMANAPANDODE kali ini Ketua Mahasiswa Seluruh tanah Papua kota study Bandung, Jack Peyon, didampingi oleh Sekjen Leonardus O. Magai dan Wakil ketua IMASEPA Cheko Kogoya, turut menghadiri. Selain mereka,  TVRI Jawa barat terlihat  meliput dan mewawancai Pembina Organisasi, Ketua IPMANAPANDODE dan BPH IMASEPA.

    Wakil Ketu Badan Pengurus Harian Ikatan Mahasiswa Seluruh Tanah Papua (IMASEPA) Bandung, Cekho Kogoya, Mengapresiasi dan menuturkan dalam wawancari TVRI. Kegiatan Natal teman-teman IPMANAPANDODE bersama dengan anak-anak Panti Asuhan ini adalah suatu kegiatan yang menerobos  tembok. Karena baru kali ini kami BPH IMASEPA melihat kegiatan seperti ini di kota Bandung. Semoga kedepannya teman-teman Ikatan keluarga Besar IPMANAPANDODE, mempertahankan rasa kepedulian sesama umat manusia sebagai Anak- anak Allah. Harapnya.

    kali ini Kami bisa Merayakan Natal bersama dengan Anak-Anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru dengan maksud berbagi kedamaian, kasih, dan pengharapan yang Teguh akan Allah terhadap sesama dengan diwujud nyatakan menjadi orang tua Asuh dan Sanak saudara demi menyatakan Se-Iman bersama anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru. Ujar Ketua Panitia Pelakana IPMANAPANDODE Bandung, Andreas Tagi.

    Anak- anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru yang karena kondisi keluarganya yang kurang beruntung dan memadai sehingga, terpaksa sejak kecil mereka kehilangan kasih sayang dari orang tuanya, mereka hidup menderita, hidup bersahaja dan berkekurangan, dan juga kadang-kadang mereka harus memendam kerinduannya dengan orang tua dan keluarganya, sementara banyak anak-anak kita yang hidup berkelimpahan dengan penuh kasih sayang dari orang tuanya.

    “Maka sangatlah tepat bila Tuhan Yesus bersemayam dan berpihak pada anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru dengan kata lain Anak-anak panti adalah Potret Tuhan Yesus itu sendiri” Ungkap Leonardus O. Magai yang juga Pembina IPMANAPANDODE Bandung.

    Lebih lanjut ia berpesan berpijak pada Iman tersebut, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai Kota Study Bandung bertekad kuat untuk mengadakan Natal bersama dengan melakukan gerakan peduli dan berbagi kasih kepada anak-anak Panti Asuhan Rumah Pengharapan Baru secara tulus menjadi orang tua dan sanak saudara dalam merayakan Natal bersama dengan Damai sebagai bentuk Pengabdian kepada Masyarakat dan Sesama.

    Mereka (IPMANAPANDODE Bandung), Bukan sekedar Ibadah bersama Anak-anak Panti asuhan Rumah Pengharapan Baru, Namun mereka juga memberi berbagai Kado Natal berupa Uang, barang-barang serta sebagai bantuan social dari Organisasi IPMANAPANDODE memberikan Uang sebesar Rp 2 Juta Rupiah kepada anak-anak Panti Asuhan.

    Sementara itu, Sekretaris Panti asuhan Imelda mengatakan dirinya merasa senang dan Bahagia karena telah menghibur kami atas kehadiran teman-teman IPMANAPANDODE Bandung di Panti Asuhan ini dengan tujuan mengadakan Natal bersama berbakti kepada Masyarakat sehingga kami mengucapkan banyak terima kasih dan kami sangat mengharapkan. “ kegiatan Natal selanjutnya dapat kita laksanakan bersama” pungkasnya.
    Selanjutnya, Bapak Pendeta Yulianus Situmeang, S.Th., dalam Kotbahnya berpesan tiga hal penting sebagai pesan Natal, yakni: Hidup Rukun dalam Keluarga dan Sesama. Berbagai kasih dan damai dalam kehidupan Manusia. Saling Menjaga dan Menguatkan antar Sesama.

    Tiga Pesan diatas ini dapat merujuk pada Thema Natal IPMANAPANDODE Bandung yakni:
    Hidup bersama sebagai Keluarga Allah dan Sub Thema Natal yakni: Melalui Implementasi Natal IPMANAPANDODE Kita Dapat menciptakan Kasih dan Damai kepada sesama Manusia. 


    Mateus A. Tekege

    ,

    Deiyai dikenal dengan danaunya, tapi sayang bila danau itu tdk diperhatikan dengan baik sebagai salah satu sumber kehidupan masyarakat. Normalisasi danau menjadi pembicaraan dalam setiap momentum, tapi hingga saat ini belum bisa diakomodir oleh pihak terkait. Dengan demikian sangat dikuatirkan, bila akobat pembuangan sampah ke kali membuat tertumpuk dan danau semakin dangkal. Diperkirakan 10 tahun mendatang danau akan meluap. Hal ini menjadi tantangan besar bagi kita untuk memelihara potensi danau yg ada. Pemerintah melalui bidang Tata Kota dan Kebersihan DPU segera perioritaskan TPS ( tempat persampahan sementara) dan TPA (tempat persampahan akhir). Ingat bahwa kali yg kita buang sampah, mengalir ke danau dan bisa membahayakan ekosistem danau itu sendiri, termasuk ikan yg kita makan.


    Komentar - Komentar

    Ones Madai Halte lebih penting daripada Bak Sampah....hehhehe....
    Kadang manusia lupa dalam melihat program prioritas yang menjadi kepentingan masyarakat.
     
    Frans Tomoki Itu sdh dik ku
     
    Tian Krisma TPS dan TPA penting dibicarakan. Keramba ikan tempat masyarakat kelola juga penting di bicarakan. Kelestarian dan kebersihan Lingkungan terlebih kali atau sungai juga penting dibicarakan. Hal ini menjadi keprihatinan kita bersama untuk menaikkan tingkat pendapatan dan kesejahteraan rakyat terlebih yang berada di sekitar danau. Semoga...
     
    Putri Embun Deiyai sangat diharapkan TPS dan TPA agar sampah tdk dibuang sambarang apalg dibuang kedanau akan mengakibatkan dampak pada ekosistem yang hidup disitu
     
    Silvester Mote Bupati n wakilnya jg Skpd pu otak tumpul jg bappeda tuh kepalax silih brganti tanpa buat dokument perencanaan via perda jg trada sd 2018 sulit diwujudkan.kuncix dibapeda kepalax jg tara tau n rasa diri pd hal tak mampu kasihan die
    Stefen Bouwkom Bukega Buta warna. binggung.....!!
     
    Jhons Raffael Giyai Aganaa Harus ada Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) terhadap Danau Tigi,agar Jelas arah Kebijakan,Rencana,Proyek dan Pengelolaan danaunya.
     
     Soni Giyai Dokumen perencanaan Rpjp rpjm renstra renja kabupaten mengacu visi misi bupati mesti diperdakan sebab sangat prinsipil menentukan arah daerah. Penataan tapal batas daerah harus diperjelas tuk menyelamatkan wilayah dan potensi daerah yang ada salah satu dampak adlh kebkaran hutan yg dilakukan oleh perusahan2 liar karena mereka memanfatkan daerah atau wilayah yang jarang disentuh oleh pemerintah. Kelembagaan mestinya disesuaikan money and man sambil itu peningkatan dan pengembangan SDM trus dipacu baik itu pendidikan formal, fungsional, struktural, teknis sehingga aparatur itu mampu krn selalu di asa trus . Tanpa di dukung dng hal2 diatas lalu mau nambah persoalan dng pemekaran distrik dan kampung tanpa penjelasan prosedural serta pertimbangan input,output,outcome,benefick,impac tanpa pertimbangan efektif sungguh disayangkan karna hanya akn membawa keburukan bagi masyarakat yang tdktau apa2. Semuanya itu akan jelas dan masyarakat boleh mengetahuix jika bupati seyokyanya menyampaikan Lkpj kepada Dprd dan kepada masyarakat. telah diatur dalam PP No.3 tahun 2007 sehingga selain masyarakat dapat mengetahui penyelenggaraan 1 tahun anggaran juga dapat berpartisipasi menyampaikan Opini, ide,saran kepada Pemerintah. Dasar rujukan sudah ada tinggal jalan sj. Stakeholder Pemerintah harus tau dan jelih dalam memilah milah kepentingan jangan samaratakan semua, fatal. Penjelasan diatas mengenai urusan pemerintah harus dituntaskan stlh itu brulah pembangunan dan kemasyarakatan dapat sinkron dalam praktek penyelenggaraan lingkup luas. Pejabat daerah dapat dikategorikan keliru dalam memanfaatkan dan mengelola uang negara sebab tanpa dasar koridor dan kecenderungan KKN jelas tak dapat disangkali. Kalo kami PNS yg menyampaikan tdk akan direspon dng alasan pemikiran intrinsik tertentu mungkin non-PNS yg smpaikan br dapat ditindak lanjuti. Perlu kita ketahui jg bahwa kemajuan daerah semata-mata bukanlah tugas pemerintah sj tetapi tugas seluruh lapisan masyarakat yg didalamnya ada unsur agama, adat,pemuda,intelek (mahasiswa) dalam prakteknya mesti ada cek and balance atau aksi dan reaksi yang aktif dan transparan tp klo semuanya jg hanya bs diblakang layar dan di blakang Fb sj. Maka sia sialah dan percuma sj...perlu kajian ilmiah dan empirik serta reaksi murni nyata seluruh elemen pemerhati. dou beu, gaii beu, ekowai beu puya ma enadani kiyoka. Filosofi (dei) membersihkan itu apa yg dibersihkan? , (eyai) menumbuhkan apa yang ditumbuhkan? (Tigii) mengumpulkan setlh ada perencanaan/janji sebelumnya maka apa yang dikumpulkan dari rencana atau janji itu. Filosofi itu bukan hanya untuk pemerintah sj tetapi seluruh insan deiyai agar dou, gai, dan ekoway. Bidaa 

     Silvester Mote Kunci kepala bappeda hrs yg pinter tdk seperti skrng orng2 yg tak mampu pi maksa bupati keluarkan notatugas hy kejar kedudukan n jabatan duit n mobil dinss rmh dinas dlll otak tumpul tara tau kerja.disarankn pak bupati dtngkn personil yg mampu dari bappeda papua utk golkan visi misinya bila tdk bupati ko gigit jari n rakyat menderita diatas kekyaNn pejabat2 deiyai. Hy pejbt yg hrs maju rakyat ko menderita sdh
     
     Soni Giyai Koakeima kita bicara pemerintahan,pembangunan, dan kemasyarakatan itu sangat general Tpa/tps dan perlindungan kelestarian danau itu pun adallah salah satu bagian dari program pembangunan dan sangat penting sementara persoalan2 penting lainnya jg bertumpuk. Apalg yg mendasar sj nol Pembangunan itu butuh waktu artinya bertahap. Hanya saja klo tdk diperkuat dng manajemen pemerintahan yang baik oleh orng2 yang berkualitas mempunyai wawasan pengetahuan yg luas jg sama aja. Knapa masyarakat dan DPRD tdk minta LKPJ bupati ini kita dah terlambat, baca aturan itu. Lkpj penting disitulah masyarakat jg dapat mengetahui melalui media atau menyaksikan laangsung dan mengoreksi bersama Dprd sbg representatif masy. Mahasiswa pun dapat berargumen sampaikan kepada pemerintah pada moment itu sampaikan kajian ilmiah dan empirisnya itu. Buka dan tuntut penataan pemerintahan daerah, minta pembangunan, minta penguatan ekonomi lokal minta pendidikan yg layak. Apa yg dihati kasih keluar pada saat momen yang tepat waktu yg tepat pada orang yang tepat. beu kipa demo besar2an rangkul massa koreksi pemerintah dan minta pembangunan bukan berarti kita mau melawan pemerintah tp mengoreksi pemerintah. Dan di daerah lain luar papua biasa seperti itu. Kita semua biasa saksikan kok....trus jaman karateker mahasswa demo yg lebih hancur tu defenitif mana mahasiswa ada demo. KNPI harus turut berpartisipasi secara obyektif. Ini demi pembangunan yg jelas cakupannya bukan urus pemuda sj tp masyarakat secara umum. KNPI harus berani berbicara kritik pemerintah itu wajar.
     
    Stefanus Tekege Benar pak frans. sangat kami kwatir atas potensi sumber daya perairan didanau Tigi dan Paniai sangat berpengaruh pada biota (makluk hidup) yang ada di dalam danau. begitu banyak sampah baik padat maupun cair selalu sasarannya buang ke kali pada hal notabene dari kali tersebut bermuara pada danau. adakah orang peka terhadap sampah tersebut......?, adakah intansi terkait tentang kebersihan......?, adakah intansi terkait tentang Biota Perairan (Ikan dan Udang)...........?...yaaa kalau bisa harus menjadi seorang Sarjana yang benar agar menjadi Pegawai yang peka dan pengaruh terhadap lingkungan.
     
     Ones Madai Ada program yang penting dan mendesak. Ada juga program tidak penting tapi mendesak. Itu musti di bedahkan. Umpanya, Halte yang sudah bangun itu, memang penting. Tapi, untuk saat ini masih blm menjadi prioritas. Yang paling prioritas adalah TEMPAT SAMPAH. Namun, program tuu semua hanyut ke kali wakei. Yang dibutuhkan di Deiyai, bukan pintar atau bodoh. Tapi, yang paling penting adalah siapa yang bekerja dan melayani masyarakat untuk Deiyai. Salam perubahan.
     
    Giay Mabypoey dampak dari sampah menghilangkan populasi dan habitat tumbuhan serta hewan yg ada didanau maupun dikali solusinya.....siapa yang selamatkan kalau kita semua harapkan ke pemda tanpa upaya keselamatan oleh warga asli yg punya hak ulayat ( PENJAGA TANAH ADAT WARISAN LELUHUR) untuk merawat dan melestarikan segala sumber manfaat bagi warga.... .jangan SEMUANYA harap kepemerintah karena dia hadir bukan mau selamatkan semesta tetapi hadir untuk memberi malapataka bagi warga setempat. contoh tanpa mendesain masterplain pembangunan yang berkualitas sedang merusak sana sini dialam MEUWO bahkan ingin selalu musnahkan dari kehadirannya....maka Pesona Alam meuwo sedang dihilangkan oleh ula manusia yang tidak mengena kepada semestanya...catatan bagi kita sekalian bahwa Generasi ini siap memerangi dan siap menyelematkan atau tidak dan ada upaya2 agar kedepan bisa mempertahankan keaslian yang pernah diciptakan oleh sang Pencipta? DEIYAI SEDANG MUSNAH KEINDAHAN DAN KEASLIAN DARI KEHADIRANNYA......Kata seniman Agung.......

    ,


    DEIYAI - Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Deiyai, Pieter Adii, pada 6 Maret 2015 lalu mengatakan, mulai tahun 2015/2016 pemerintah tidak akan turun langsung ke kota studi masing-masing di Jawa dan Bali untuk membagikan dana Tugas Akhir (TA).

    Pihaknya akan membagikan dana TA dengan cara mentransfer ke rekening mahasiswa. Dana dikirimkan setelah mahasiswa mengirimkan proposal yang berisi sejumlah persyaratan.

    Kebijakan ini ditanggapi sejumlah mahasiswa asal Deiyai yang sedang studi di pulau Jawa dan Bali.  Donatus Mote, mahasiswa asal Deiyai di Yogyakarta misalnya, meminta pemerintah daerah menjelaskan alasan kebijakan ini baru dijalankan.

    Tidak seperti biasa. Biasanya dana TA datang bagikan langsung ke masing-masing kota study. Kami minta penjelasan. Kalau tidak, kami tidak akan kirimkan proposal dan syarat yang diminta atau tolak dana TA yang mau kirim lewat rekening itu, kata Mote, Minggu (15/3/15). Senada disampaikan mahasiswa asal Deiyai kota studi Surabaya, Frans Madai dan Oce Doo di kota studi Semarang.

    Sementara itu, Mateus Tekege, ketua Ikatan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai (Ipamanapandode) kota study Bandung mengatakan, seharusnya pihak dinas perjelas kenapa kebijakan itu baru dijalankan tahun ini, tidak seperti tahun sebelumnya.

    Dana APBD Kabupaten Deiyai khusus pendidikan biasanya dianggarkan milyaran, tapi yang dibagikan hanya ratusan juta saja, kata Tekege. Diketahui, persyaratan yang diminta itu diantaranya Kartu Tanda Mahasiswa, Transkrip Nilai semester awal sampai akhir, surat keterangan aktif kuliah dengan stempel basah, dan foto kopi buku rekening.

    Harusnya  Pemerintah Kabupaten Deiyai, mengedepankan dan mengutamakan Sumber Daya Manusia karena membentuk karakter dan membangun sesuatu Bangsa adalah Kecerdasan anak bangsa Meeuwo dan Papua pada umumnya
    sumber : majalahselangkah.com

    Kepala Distrik Tigi, Stefanus Mote/ Foto Moyai Kedee
    Kepala distrik tigi, Stefanus Mote. Menyatakan bahwa pembangunan kabupaten Deiyai nampak di distrik tigi ketimbang distrik lain di Deiyai, Sebab Kata Dia saya sudah menjalankan program kerja  prioritas dan membangun jembatan di kali Oneibo. Hal tersebut ini di sampaikan oleh Kepala distrik Tigi kepada  wartawan Kagaitadiyoka. Selasa 10 april 2015.

    Dari segi pembangunan infrastruktur, tak diragukan lagi di distrik saya. Selain itu rencana membangun Tiga ( 3) Lapangan bola kaki ( Stadion Mini ), Kemudian di samping itu rencana membangun jembatan kali Oneibo dan  sudah berikan uang Doa kepada warga setempat sehingga sementara kami tunggu CV masuk di wilayah tersebut untuk membangun jembatan.

    Jika jembatan Oneibo akan membangun maka, jalan keliling Tigi sudah bisa memadai dan nyaman untuk dilalui para pengendara. Di samping pembangunan infrastruktur yang tergolong pesat, pembangunan semakin indah dan sudah terjawab keinginan masyarakat.Kata Kepala Distrik Tigi, Stefanus Mote.

    Kemudian, Wartawan menanyakan mengangkut jalan trans Timika_ Deiyai Apa benar Jalan Trans Timika_Deiyai sudah tembus ke deiyai, apa masih belum ? sebab ada isu yang beredar bahwa beberapa minggu lalu jalan trans Timika_ Deiyai sudah masuk di Deiyai. Masih belum tembus diperkirakan 4 kilo Meter lagi untuk masuk ke Deiyai dan Isu yang beredar itu hanya opini yang tidak benar. Tuturnya.

    Sementara itu, Yulius Badii membenarkan pengakuan kenerja pembangunan di distrik tigi, dari segi pembangunan infrastruktur memang patut di jempol atas keberhasilannya membangun di tigi.“Dari segi pembangunan infrastruktur, tinggal bagaimana kedepan kita berupaya agar incam masyarakat bisa meningkat seiring laju pembangunan daerah,” ungkap Badii membenarkan. 

    By Moyai Kedee

    , , ,

    Marko Pekei ( Sumber :http://komunitasapikopamauwa.blogspot.com)
    Di tengah realitas akan adanya banyak persoalan di Papua seringkali membuat orang lupa menyadari dan melihat akar-akar kehidupan di kampung halamannya sendiri. Kampung semakin dilupakan pasca adanya arus pembangunan dan modernisasi. Entah benar atau tidak, pemekaran wilayah menjadi sebuah kabupaten tentu didasarkan atas ketersediaan sumber daya manusia mulai dari kabupaten hingga kampung. Demikian pula, pemekaran kabupaten di wilayah Meuwo menjadi 3 kabupaten, yakni Paniai, Deiyai dan Dogiyai. Namun, ironisnya, sumber daya manusia atau katakanlah orang yang berpendidikan (formal) semakin sentralistik di pusat kota kabupaten; sementara distrik dan kampung-kampung semakin dilupakan.

    Lancarnya transportasi membuat masyarakat termasuk kaum terpelajar lebih berorientasi di kota. Ramainya suasana kota yang dibekap dengan jaringan telkomsel membuat orang dari berbagai kalangan memilih lebih lama tinggal atau bertugas di kota. Transaksi jual beli dan peredaran uang semakin di kota. Kaum terpelajar merasa bahwa kemudahan mendapatkan pekerjaan alias menjadi PNS akan memungkinkan apabila ia memilih tinggal di kota. Singkat kata, kebanyakan orang merasa bahwa segala kemudahan akan diperoleh di kota daripada di kampung; sementara kampung dianggap tidak ada sumber kehidupan. 

    Kampung-kampung yang semakin dilupakan ini membuat akar basis ekonomi di kampung tercabut-cabut. Basis-basis pendidikan formal maupun informal yang mengantar anak-anak untuk terus bertumbuh dan berkembang dianggap bukan sesuatu penting. Kelayakan hidup keluarga yang dibarengi dengan kemandirian keluarga dalam hal kesehatan keluarga, kebersihan rumah, kebersihan lingkungan dan kesejahteraan yang semestinya dibangun dalam keluarga semakin dilupakan akibat terbangunnya kebiasaan-kebiasaan yang bersifat konsumtif. Uang dilihat bukan sebagai sarana pemandirian keluarga untuk terus bertumbuh dan berkembang, tetapi justru menyebabkan semua akar kehidupan di kampung tercabut.

    Fenomena baru yang mengantar orang sampai pada anggapan bahwa kota sebagai pusat pemenuhan segala kebutuhan ini merupakan suatu tantangan bagi generasi muda masa sekarang dan akan datang. Namun, kiranya perlu disadari bahwa ditengah realitas seperti ini tidak dibutuhkan sebuah forum diskusi alias mengemukakan pendapat atau berdebat, tetapi dibutuhkan tindakan ril untuk kembali menanam semua akar kehidupan yang telah tercabut-cabut. Tindakan ril yang dimaksudkan tentu dimulai dari masing-masing pribadi terutama generasi sekarang. Misalnya; ketika berbicara soal macetnya sekolah-sekolah di kampung, apakah generasi muda bersedia menjadi guru di kampung? Ketika berbicara soal kesehatan yang terpuruk, apakah kita bisa berperan entah tindakan penyelamatan atau memberi pemahaman mengenai kesehatan? Ketika berbicara soal kebun-kebun yang kini kelihatan rumput tinggi, apakah bersedia kembali ke kampung untuk membangun basis-basis ekonomi? Ketika berbicara soal identitas dan budaya, apakah generasi muda bersedia duduk dengan para orang tua di Emawaa/Yamewaa? Demikian pula, berbagai aspek lainnya. 

    Beberapa pertanyaan tersebut diatas diungkapkan seiring berjalannya waktu yang mengantar manusia pada bergantinya generasi. Ketika semangat pengabdian orang tua (generasi lalu) menurun alias usia mulai senja, tentu generasi muda menjadi estafet atas karya para orang tua. Kini saatnya generasi muda dituntut berperan aktif mulai dari kabupaten hingga di kampung-kampung. Namun, jikalau generasi mudapun memilih bertahan hidup di kota “lebih baik tugas di kota”, maka tentu keprihatinan tadi akan tetap menjadi persoalan entah kapanpun. Hal ini dikatakan demikian karena orang tidak mau menjadi guru yang sedia dengan tugasnya di kampung. Orang tidak mau menjadi perawat yang jatuh bangun melayani masyarakat di kampung. Orang tidak mau sungguh-sungguh membangun basis ekonomi di kampung. Jika demikian, maka pertanyaannya; tunggu siapa lagi? Apakah orang Mee harus tunggu suku lain untuk datang membangun di kampung-kampung Meuwo? Apakah orang Mee harus tunggu orang non Papua untuk bertugas di kampung-kampung? Kiranya hal itu tentulah sangat tidak mungkin. 

    Suku-suku lain di Papua tentu merekapun memikirkan bagaimana mereka membangun daerahnya. Demikian pula, orang non Papua sangat tidak mungkin bersedia bertugas di kampung-kampung. Dengan demikian, tentu orang Mee sendiri yang harus bangun kampung-kampung di daerah Meuwoo (Paniai, Deiyai dan Dogiyai). Namun, jikalau generasi muda Mee sendiri juga melupakan atau bahkan tidak mau bertugas di kampung-kampung, maka siapakah yang akan membangun kampung-kampung di daerah Meuwo?

    Akhirnya semua ungkapan keprihatinan hanya merupakan suatu retorika di forum media dan kita tidak bisa melemparkan ketidaksediaan kita menjadi kesalahan orang atau pihak lain. Pemerintah Pusat telah memberikan semua kewenangan ke Pemerintah Daerah sehingga seringkali muncul istilah prioritaskan putra daerah. Kini tinggal bagaimana diatur regulasinya di tingkat daerah bersama putra-putri daerah tadi. Akhirnya kembali pada pertanyaan pokok bahwa; bersediakah generasi muda bertugas di kampung dan menjadi agen perubahan di kampung?

                                 
                                                  sumber Berita facebook oleh: marco pekei


Top