Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan penting bagi pembangunan
manusia di Papua.Meskipun kadang pemahaman masyarakat mengenai
pentingnya kesehatan masih terbatas karena terbiasa menggunakan layanan
kesehatan secara tradisional. Namun disinilah semakin pentingnya
kehadiran pemerintah terutama untuk melayani kesehatan pada
daerah-daerah terpencil.Pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan dan
melakukan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan di lapangan.
Jika memperhatikan institusi pemerintahan yang menyelenggarakan
pelayanan public di tingkat distrik maka pelayanan kesehatan yang
dilakukan oleh Puskesmas tergolong aktif dibanding dengan kehadiran
pemerintahan distrik sendiri.Namun tidak semuanya dapat berjalan
maksimal karena masalah kekurangan tenaga medis,pendanaan dan koordinasi
dengan pemerintah di tingkat distrik serta sebab lainnya.
Permasalahan
kesehatan di daerah terpencil agak berbeda dengan permasalahan di
bidang pendidikan.Jika dibidang pendidikan masalah utamanya adalah
kekurangan tenaga guru dan ruang belajar maka permasalahan kesehatan
lebih berfokus pada kekurangan tenaga medis dan pengelolaan
keuangan.Sebab dibanyak tempat justru bangunan untuk pelayanan kesehatan
sudah tersedia dalam berbagai tingkatan mulai dari Poskeskam(Pos
Kesehatan kampung),Pustu(Puskesmas Pembantu) apalagi Puskesmas untuk
tingkat distrik.
Pada data pada Dinas kesehatan Provinsi Papua
tahun 2011,tercata ada 230 Puskesmas pada tahun 2006 dan tahun 2011
berjumlah 314. Juga terjadi penambahan Pustu sebanyak 700an diantara
tahun 2006-2011 selain itu bangunan pondok bersalin pun meningkat pada
2007 sebanyak 454 dan ditahun 2009 meningkat menjadi 497.
Menurut
kepala Dinas kesehatan Provinsi Papua, Yosep Rinta Riatmaka saat
bertemu dengan stakeholder kesehatan dan LSM di Jayapura(6/03/2012)
penambahan sarana kesehatan bertujuan mendekatkan layanan kesehatan
ramah pada masyarakat di 385 distrik dan 3.565 kampung di 28 Kabupaten
dan satu kota yang tersebar di seluruh di Papua.
Sayangnya Dinas
juga mencatat 40% puskesmas tanpa dokter tetap dan hanya ada dokter
PTT yang dikontrak untuk waktu sangat singkat bahkan ada 7% dari jumlah
distrik yang tidak memiliki puskesmas. Ada sekitar 27% Pustu tidak
tersedia tenaga medis dan 41% pondok bersalin kampung tak ada bidan.
Akibat
kurangnya tenaga medis maka meskipun bangunan disiapkan secara permanen
dan megah dibanding bangunan setempat lainnya namun tidak dapat
memenuhi hak-hak dasar masyarakat di bidang kesehatan.Seperti yang
terjadi di kampung Sekori dan kampung Aimbe di distrik Kemtuk Kab
Jayapura ataupun di distrik Tor,distrik Pantai Barat dan Apawer kab
Sarmi.
Petugas di beberapa Pustu tak lebih dari 2(dua) orang
padahal harus melayani penduduk yang banyak pada beberapa kampung atau
harus menempuh perjalanan yang cukup jauh karena jarak antara satu
kampung dengan kampung yang lain saling berjauhan.Seperti di Pustu Bupul
Kab Merauke atau Pustu Yuruf di Kab Keerom.
Alokasi tenaga medis
yang dilakukan oleh dinas Kesehatan setempat kadang tidak memperhatikan
kebutuhan riil di lapangan serta tidak berdasarkan kualifikasi yang
tepat. Misalnya tidak menyediakan tenaga bidan untuk menolong persalinan
sehingga dukun bersalin selalu menjadi pilihan padahal kampanye yang
selalu dilakukan oleh pemerintah dukun bersalin tidak boleh melakukan
pertolongan persalinan akibatnya kematian akibat persalinan cukup
tinggi.
Selain itu kebijakan pemerintah untuk menempatkan Sarjana
Kesehatan Masyarakat(SKM) di Puskesmas terkadang membawa masalah
tersendiri sebab SKM secara teori tidak diajarkan untuk melakukan
penanganan terhadap pasien namun masyarakat hanya tahu bahwa siapapun
petugas medis yang menggunakan pakaian putih-putih dapat melakukan
pertolongan medis.”Salah dirawat malah kita akan dianiayai oleh
masyarakat setempat,”Ujar mantri Yulius Peday Puskesmas distrik Tor kab
Sarmi.
Menurut suster Welly,suster senior di Kab Sarmi,pentingnya
menempatkan Sarjana Kesehatan Masyarakat di Puskesmas untuk
bertanggungjawab dengan menejemen sehingga dokter Puskesmas hanya
berfokus mengurus pasien.
Akibat dari kurangnya tenaga medis maka
dapat mempengaruhi kualifikasi rumah sakit.Misalnya Puskesmas Utama di
kota Sarmi yang hingga kini masih berstatus sebagai Puskesmas dan belum
menjadi Rumah sakit karena tidak memiliki jumlah dokter umum yang
memadai dan tidak ada dokter spesialis.
Selain masalah tenaga
medis,berbagai bantuan untuk pelayanan kesehatan seringkali menjadi
masalah. Misalnya yang terjadi di kampung Towe Hitam Ibukota distrik
Towe Kab Keerom.Bantuan Otsus seperti beras ketan,kacang
ijo,susu,vitamin dan makanan bayi dari berbagai merek akhirnya hanya
menumpuk dan kadaluwarsa di Puskesmas Towe. Alasannya karena tidak ada
tenaga yang mengantar ke kampung-kampung dalam wilayah distrik Towe
karena jarak yang cukup jauh,ada yang harus ditempuh dalam waktu sekitar
6-7 jam perjalanan atau bahkan 2 hari.
Sebenarnya di Puskesmas
sudah tersedia dana untuk berbagai pelayanan kesehatan mulai dari dana
Bantuan Operasional Kesehatan(BOK),pelayanan kesehatan keliling dari
kampung ke kampung,biaya untuk mengantar obat,biaya porter dan
kebersihan Puskesmas.Dinas kesehatan hanya mengurus administrasi dan
dananya langsung masuk ke rekening Puskesmas.
Secara umum sumber
pembiayaan kesehatan sangat beragam misalnya dari APBN
(Pembantuan/BOK,DAK,Bansos, Jamkesmas dan Jampersal) dan sumber dana
APBD selain Otsus sebesar 15% ada dari DAU dan PAD. Ada juga dari
UNICEF, khusus kabupaten Jayapura dan Jayawijaya serta GF ATM khusus
untuk TB Paru, malaria dan HIV/AIDS.Pendek kata pembiayaan pembangunan
kesehatan mengalami kenaikan signifikan setiap tahunnya.Contoh dari dana
Otsus saja, tahun 2002 semula berjumlah 80 miliar lebih maka tahun 2011
menjadi 600 miliar.
Keluhan lainnya adalah keterbatasan sarana
transportasi yang kurang memenuhi standar dan tidak didistribusikan
dengan baik terutama untuk medan yang sulit dijangkau dengan kondisi
jalan yang sangat buruk. Misalnya tidak ada angkutan umum untuk menuju
distrik Tor Kab Sarmi akibatnya petugas medis menumpang mobil perusahaan
atau menggunakan ojek dengan biaya Rp.250 ribu sekali jalan dengan
jarak tempuh sekitar 3 jam. Mobil Puskesmas yang sering rusak bahkan
Puskesmas Ubrub Kab Keerom sempat menyewa mobil truk dari Pos TNI untuk
membawa dari Kota Arso ke Puskesmas Ubrub dengan biaya sekali jalan
Rp.14 juta.
Meski demikian ada beberapa pendekatan yang dilakukan
oleh Puskesmas maupun Pustu untuk tetap memaksimalkan pelayanan
kesehatan.Misalnya dokter di Puskesmas Bonggo Kab Sarmi,meminta
masyarakat untuk aktif melakukan pemeriksaan kesehatan terutama bagi ibu
hamil.Puskesmas menganggung biaya transportasi/ojek bagi ibu hamil.
Puskesmas Bonggo melayani 16 kampung dan hanya 4 kampung yang baru
memiliki Pustu.Pada dinding Pustu di Betaf tertulis jam pelayanan yang
dicetak tebal memenuhi dinding. Di Genyem dan Waris,pada jendela suster
dibuat papan pengumuman bertuliskan ‘Suster ada’ atau ‘Suster sedang
keluar’.
Memahami permasalan tersebut maka rekruitmen dan
distribusi tenaga medis mesti dilakukan dengan lebih baik. Termasuk
dengan memperhatikan kendala dan kebutuhan mereka di lapangan.Selain itu
monitoring dan sanksi yang tegas terhadap distribusi sarana
transportasi dan penggunaan dana bila perlu untuk daerah pesisir
dilengkapi dengan transportasi laut seperti untuk sekitar Kab Sarmi dan
Kab Yapen.Sembari meninjau kembali kebijakan ‘pelayanan kesehatan
terbang’ dengan menggunakan pesawat udara yang telah dicanangkan pada
awal tahun 2012 untuk 3 distrik di kab.Jayapura.
Oleh karena
penyakit-penyakit pada daerah terpencil cenderung lebih mudah dideteksi
seperti penyakit kulit,malaria dan ISPA termasuk penyakit-penyakit
khusus seperti kaki gajah dan kusta maka perlu melakukan rekruitmen dan
spesialisasi perawat khusus seperti kebijakan yang pernah dilakukan
pada jaman pemerintah Belanda.Ada mantri malaria,mantri kaki gajah dll.
Selain
itu perlu meninjau kembali alokasi dana kesehatan kepada setiap unit
pelayanan pemerintah baik di tingkat kampung,distrik,kabupaten hingga di
provinsi. Jika saja unit-unit layanan kesehatan milik pemerintah tidak
dapat menjalankan perannya secara maksimal maka pemerintah dapat
bekerjasama dengan unit layanan kesehatan swasta dengan tujuan
memberikan jaminan layanan kesehatan yang maksimal dan terbaik buat
penduduk khususnya orang asli Papua. (Andawat/AlDP)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar