Layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) usia 0 – 6 tahun ke depan
diharapkan semakin baik dan terintegrasi. Layanan untuk
menumbuhkembangkan anak – anak ini akan mengintegrasikan antara layanan
pendidikan, kesehatan, gizi, dan perlindungan. UNESCO menargetkan pada
2015 angka partisipasi PAUD mencapai 75 persen.
“PAUD adalah
salah satu program education for all dan itu ada di urutan pertama dan
komitmen internasional terhadap PAUD sangat jelas. Oleh karena itu,
kita berupaya selain untuk meningkatkan akses pendidikan, tetapi kita
juga harus fokus kepada mutu,” katanya Direktur Jenderal Pendidikan
Nonformal dan Informal (Dirjen PNFI) Depdiknas Hamid Muhammad saat
memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media, Depdiknas,
Senin (16/11/2009).
Hamid mengatakan, jenis layanan PAUD adalah
formal dan nonformal meliputi kelompok bermain, penitipan anak, satuan
paud sejenis, dan yang diselenggarakan oleh kelompok agama seperti taman
pendidikan Alquran. Dia menjelaskan, satuan PAUD sejenis bermacam –
macam seperti POS PAUD yang merupakan integrasi layanan pendidikan
kesehatan dan gizi. “Jadi PAUD yang diintegrasikan dengan Posyandu,”
katanya.
Hamid menyampaikan, pemerintah saat ini sedang merintis
PAUD holistik terpadu yang sedang diujicobakan di daerah Bogor, Jawa
Barat dan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. “Termasuk
yang sedang kita rintis PAUD berbasis keluarga. Model ini akan kita
rintis dan betul – betul kita tangani dengan baik. Nanti mudah – mudahan
dalam satu tahun sudah ada diseminasi kabupaten dan kota yang punya
komitmen untuk mengembangkan PAUD,” katanya.
Hamid menyebutkan,
jumlah penduduk usia PAUD di Indonesia 30 juta orang. Angka partisipasi
kasar (APK) PAUD pada 2008 50,6 persen dan diproyeksikan pada akhir 2009
mencapai 53 persen. “Pada 2014 atau akhir Kabinet Indonesia Bersatu II
bisa mencapai 72 persen,” katanya.
Hamid mengatakan, Direktorat
Jenderal PNFI akan menggelar Indonesia International Early Childhood
Education Conference and Exhibition 2009 pada 19 – 20 November 2009 di
Surabaya, Jawa Timur. Dia menyebutkan, kegiatan akan menghadirkan 17
pembicara ahli dari Amerika Serikat, Australia, dan Singapura. Hamid
mengatakan, kegiatan ini akan membahas isu – isu aktual yang sedang
berkembang di seluruh dunia dan berbagai metode layanan yang
dikembangkan di berbagai belahan bumi.
“Praktek – praktek terbaik
layanan PAUD yang ada di berbagai negara kita coba sharing, sehingga
nantinya layanan pendidikan PAUD ini ke depan di Indonesia bukan hanya
aksesnya yang bertambah, tapi juga harus diikuti dengan layanan PAUD
yang lebih bagus dan terintegrasi,” kata Hamid. Hal ini ditujukan agar
anak – anak generasi bangsa Indonesia ke depan semakin baik dan
berkembang, sehingga menjadi aset potensial bagi kemajuan bangsa ini.
Direktur
PAUD Sudjarwo Singowidjojo menyebutkan, kebutuhan pendanaan PAUD agar
mutunya bagus dan memenuhi standar pertahunnya antara Rp 3 milyar
sampai dengan Rp 4 milyar. Dia menyebutkan, anggaran saat ini Rp500
miliar. “Pemerintah daerah dihimbau untuk memberikan kontribusi yang
memadahi,” katanya.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar