• Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?


    ,

    Putih diatas Merah dibawah, Berarti kebolak balikan dengan Bendera Merah Putih
    Ketidak adilan Negara Indonesia nampak pada pakaian seramam Sekolah Dasar (SD). Mengapa kami lebih memilih menyatakan demikian ? Ya, yang pastinya kita semua sudah melihat bahkan telah memakai pakaian segaram sekolah Dasar “ Putih Merah bukan Merah Putih” yang terbolak balik itu. Disini sudah jelas bahwa Kebodohan Negara Indonesia telah terdampak jelas bahwa kebodohan Negara Nampak pada pakaian seragam Sekolah Dasar (SD).

    Kalau kita melihat Bendera Negara Indonesia, yang jelas  bahwa Merah dan Putih, sekarang bagaimana dengan pakaian sekolah dasar  yang terbolak balik itu ? Bajunya putih dan Celananya Merah. Hahahahee 
    Bendera Negara indonesia, malah merah putih sedangkan pakian segaram SD Putih merah


    Lebih jauh kita mengaitkan dengan perkembangan saat ini di Papua dan umumnya diseluruh nusantara, Bahwa kini ruang demokrasi dibungkam oleh Negara Indonesia melalui TNI/POLRI. Karena perundang-undangan telah terjamin bahwa Semua orang bebas berekspresi baik melalui kelompok maupun individu. Namun, apa yang sedang mempraktekan Negara di Papua ?


    Ketidak adilan Negara sedang dan sudah mempraktekan di seluruh tanah Papua adalah Kebodohan Negara yang memperlihat terhadap masyarakat west Papua. 

    , , ,

    Screenshot_2016-08-02-22-58-28
    PEMBEBASAN (Bandung, 2/8/2016); Siang tadi, sekitar jam 11:00, gabungan organisasi mahasiswa dan individu di Bandung membentangkan spanduk, poster-poster, palu berbaris. Salah seorang peserta mengambil megaphone kemudian berorasi. Mereka menamakan dirinya Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi. 30an peserta demonstrasi menggelar proses menyuarakan gagasan di depan kantor Pikiran Rakyat, Bandung. Demonstrasi juga dibakar oleh pertunjukan “Doger Manusia”, buah karya dari kawan-kawan Daunjati. Kumpulan seniman kerakyatan.
    Screenshot_2016-08-03-07-23-36
    Gagasan utamanya mengenai upaya mendorong majunya demokrasi kerakyatan yang dibajak oleh kepentingan investasi (kapitalisme), termasuk bicara tentang nihilnya demokrasi di Papua, dan praktik kejahatan kemanusiaan yang menyertainya.
    Dalam pemberitahuan kepada publik, Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi memastikan bahwa demonstrasi akan digelar di depan Gedung Merdeka yang jadi simbol perlawanan menentang kolonialisme. Situasi lapangan berkata lain, ternyata ada ormas yang menggelar demonstrasi dengan jargon “keutuhan NKRI”.
    Screenshot_2016-08-03-07-26-46
    Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi menduga bahwa ada unsur kesengajaan aparat (tentara) memobilisasi ormas tersebut untuk menggagalkan kelompok manapun yang hendak berbicara tentang kemerdekaan Papua, minimal, referendum sebagai mekanisme demokratis. Faktanya, di titik berangkat yang lain, barisan demonstran Aliansi Mahasiswa Papua dihadang aparat polisi, dipaksa bubar, dilarang bergabung dengan Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi yang sudah berada di Jalan Asia-Afrika.
    Dugaan tersebut menguat sebab beberapa hari sebelumnya, humas aliansi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi dihujani teror via telefon dari lebih 8 penelpon yang mengaku sebagai aparat kepolisian (Polrestabes Bandung dan Polda Jabar). Kesemuanya menganjurkan agar rencana aksi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi dibatalkan karena ada massa aksi ormas yang berposisi menolak gagasan demokratik yang disuarakan Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi. Dan diketahui bahwa ormas tersebut terdiri dari anak-anak tentara. Sebuah institusi yang tangan-tangannya paling berlumuran darah.
    Screenshot_2016-08-03-07-28-26
    Bagi aliansi, itu adalah upaya ancaman halus yang analogi sederhananya adalah: Jangan demonstrasi, karena ada massa ormas sedang aksi yang isunya menolak gagasan demokratik kalian. Itu adalah sikap aparat yang membela ormas reaksioner ketimbang suara-suara demokratisasi terutama untuk Papua. Tidak heran. Mereka institusi pelindung kapitalis.

    Tanpa banyak pertimbangan, Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi menggelar aksinya hingga jam 1 siang di tempat yang tak jauh dari massa ormas berkumpul. Dengan jarak 50 meter. Setelah aksi selesai, ormas terus melakukan provokasi dengan kawalan aparat. Mereka berdiri mengamati massa aksi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi. Seorang berbadan tegap berbaris, dan seorang lagi, sambil menegapkan badan berteriak: “NKRI harga mati, anjing!“. berteriaknya.

    Dalam situasi istirahat setelah aksi, massa Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi menanggapi dengan melanjutkan minum air mineral dan menghisap rokoknya. Hingga akhirnya, massa berjalan menuju tempat konsolidasi aliansi. Massa aksi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi berjalan melewati barisan ormas reaksioner picik dengan dikawal aparat yang juga tahu bahwa massa ormas tersebut dimobilisasi tentara. Setali-tiga-uang, itulah gambaran kerjasama mesra nan abadi TNI-Polri-Ormas-Reaksioner, para pemuja keserakahan tuan kapitalis.(bp)

    Sumber: http://pembebasan.org/





Top