Most Popular
This Week
Socratez Yoman: Konflik Papua Diciptakan Pemerintah Indonesia
Foto: Socratez Sofyan Yoman PAPUAN, Bandung --- Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua (PGBP), Pdt. Socratez Sofyan Yoman me...
Resensi Anak Koteka Jadi Gubernur
Judul buku: Anak Koteka Jadi Gubernur Penulis Buku: Lamadi de Lamato Tebal: 226 Nama Lukas Enembe mencuat ketika ia hendak mencalonk...
Popular Posts
Latest Stories
What is new?
Comments
What They says?
Tampilkan postingan dengan label Peduli Demokraasi. Tampilkan semua postingan
Peduli Demokraasi, PEMERINTAH
![]() |
| Putih diatas Merah dibawah, Berarti kebolak balikan dengan Bendera Merah Putih |
Ketidak adilan Negara Indonesia nampak pada pakaian seramam
Sekolah Dasar (SD). Mengapa kami lebih memilih menyatakan demikian ? Ya, yang
pastinya kita semua sudah melihat bahkan telah memakai pakaian segaram sekolah
Dasar “ Putih Merah bukan Merah Putih” yang terbolak balik itu. Disini sudah
jelas bahwa Kebodohan Negara Indonesia telah terdampak jelas bahwa kebodohan Negara
Nampak pada pakaian seragam Sekolah Dasar (SD).
Kalau kita melihat Bendera Negara Indonesia, yang jelas bahwa Merah dan Putih, sekarang bagaimana
dengan pakaian sekolah dasar yang
terbolak balik itu ? Bajunya putih dan Celananya Merah. Hahahahee
![]() |
| Bendera Negara indonesia, malah merah putih sedangkan pakian segaram SD Putih merah |
Lebih jauh kita mengaitkan dengan perkembangan saat ini di
Papua dan umumnya diseluruh nusantara, Bahwa kini ruang demokrasi dibungkam
oleh Negara Indonesia melalui TNI/POLRI. Karena perundang-undangan telah
terjamin bahwa Semua orang bebas berekspresi baik melalui kelompok maupun
individu. Namun, apa yang sedang mempraktekan Negara di Papua ?
Ketidak adilan Negara sedang dan sudah mempraktekan di
seluruh tanah Papua adalah Kebodohan Negara yang memperlihat terhadap masyarakat
west Papua.
Moyaipai, Papua, Peduli Demokraasi, PROFIL
PEMBEBASAN (Bandung, 2/8/2016); Siang tadi, sekitar jam 11:00, gabungan organisasi mahasiswa dan
individu di Bandung membentangkan spanduk, poster-poster, palu berbaris.
Salah seorang peserta mengambil megaphone kemudian berorasi. Mereka
menamakan dirinya Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi. 30an peserta
demonstrasi menggelar proses menyuarakan gagasan di depan kantor Pikiran
Rakyat, Bandung. Demonstrasi juga dibakar oleh pertunjukan “Doger
Manusia”, buah karya dari kawan-kawan Daunjati. Kumpulan seniman
kerakyatan.
Gagasan utamanya mengenai upaya mendorong
majunya demokrasi kerakyatan yang dibajak oleh kepentingan investasi
(kapitalisme), termasuk bicara tentang nihilnya demokrasi di Papua, dan
praktik kejahatan kemanusiaan yang menyertainya.
Dalam pemberitahuan kepada publik,
Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi memastikan bahwa demonstrasi akan
digelar di depan Gedung Merdeka yang jadi simbol perlawanan menentang
kolonialisme. Situasi lapangan berkata lain, ternyata ada ormas yang
menggelar demonstrasi dengan jargon “keutuhan NKRI”.
Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi
menduga bahwa ada unsur kesengajaan aparat (tentara) memobilisasi ormas
tersebut untuk menggagalkan kelompok manapun yang hendak berbicara
tentang kemerdekaan Papua, minimal, referendum sebagai mekanisme
demokratis. Faktanya, di titik berangkat yang lain, barisan demonstran Aliansi Mahasiswa Papua dihadang aparat polisi, dipaksa bubar, dilarang bergabung dengan Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi yang sudah berada di Jalan Asia-Afrika.
Dugaan tersebut menguat sebab beberapa
hari sebelumnya, humas aliansi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi
dihujani teror via telefon dari lebih 8 penelpon yang mengaku sebagai
aparat kepolisian (Polrestabes Bandung dan Polda Jabar). Kesemuanya
menganjurkan agar rencana aksi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi
dibatalkan karena ada massa aksi ormas yang berposisi menolak gagasan
demokratik yang disuarakan Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi. Dan
diketahui bahwa ormas tersebut terdiri dari anak-anak tentara. Sebuah
institusi yang tangan-tangannya paling berlumuran darah.
Bagi aliansi, itu adalah upaya ancaman
halus yang analogi sederhananya adalah: Jangan demonstrasi, karena ada
massa ormas sedang aksi yang isunya menolak gagasan demokratik kalian.
Itu adalah sikap aparat yang membela ormas reaksioner ketimbang
suara-suara demokratisasi terutama untuk Papua. Tidak heran. Mereka
institusi pelindung kapitalis.
Tanpa banyak pertimbangan, Solidaritas
Rakyat untuk Demokrasi menggelar aksinya hingga jam 1 siang di tempat
yang tak jauh dari massa ormas berkumpul. Dengan jarak 50 meter. Setelah
aksi selesai, ormas terus melakukan provokasi dengan kawalan aparat.
Mereka berdiri mengamati massa aksi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi.
Seorang berbadan tegap berbaris, dan seorang lagi, sambil menegapkan
badan berteriak: “NKRI harga mati, anjing!“. berteriaknya.
Dalam situasi istirahat setelah aksi,
massa Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi menanggapi dengan melanjutkan
minum air mineral dan menghisap rokoknya. Hingga akhirnya, massa
berjalan menuju tempat konsolidasi aliansi. Massa aksi Solidaritas
Rakyat untuk Demokrasi berjalan melewati barisan ormas reaksioner picik
dengan dikawal aparat yang juga tahu bahwa massa ormas tersebut
dimobilisasi tentara. Setali-tiga-uang, itulah gambaran kerjasama mesra
nan abadi TNI-Polri-Ormas-Reaksioner, para pemuja keserakahan tuan
kapitalis.(bp)



